NANGA BULIK –

BORNEONEWS, Nanga Bulik – Ribuan warga memenuhi Alun-alun kota Nanga Bulik saat Babukung Festival 2025 digelar, Sabtu, 8 November 2025. Hujan ringan tak menyurutkan langkah masyarakat untuk menyaksikan parade topeng Babukung yang menampilkan semangat budaya dan kreativitas masyarakat Dayak Tomun.

Suara Tatakup, alat musik tradisional dari bambu yang digoyangkan dan dihentakkan ke tanah, menjadi pengiring utama tarian Babukung. Setiap hentakan dan getarannya seakan menghidupkan kembali roh leluhur yang dulu menjadi bagian dari ritual adat Kaharingan.

Sebanyak 88 desa dan komunitas seni turut serta menampilkan kostum, topeng, dan tarian khas yang sarat makna. Topeng Babukung yang menggambarkan karakter hewan simbolik seperti burung enggang, kupu-kupu dan rusa menjadi daya tarik tersendiri di panggung utama.

Salah satu peserta karnaval, Singpi, SH., Penjabat Kepala Desa Topalan, Kecamatan Menthobi Raya, mengungkapkan kebanggaannya bisa ambil bagian dalam perayaan budaya tahunan ini.

“Kami menyambut positif program pemerintah yang tiap tahunnya digelar. Kami memakai topeng atau Luha berbentuk kupu-kupu, yang sarat makna. Dulu, Babukung digunakan sebagai hiburan bagi keluarga yang berduka. Wajah para penari ditutupi agar tidak dikenali saat memberikan bantuan,” jelasnya.

Ia menambahkan, partisipasi masyarakat dalam festival ini menjadi bentuk nyata kecintaan terhadap budaya leluhur yang telah diwariskan turun-temurun.

Festival Babukung kini tak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kecintaan terhadap identitas daerah melalui seni dan kreativitas.

Bagi masyarakat Lamandau, Babukung bukan sekadar tontonan, tetapi pengingat bahwa nilai gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, dan kebersamaan masih mengalir kuat di tanah Borneo. Kemeriahan ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga penutupan Lamandau Festival 2025 pada 14 November mendatang. (SITI AKOBAH/j)