PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Rektor Universitas Sebelas Maret atau UNS, Prof Hartono menyampaikan pesan penting tentang kolaborasi global dalam menghadapi tantangan perubahan iklim pada Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim ke-11 (11th International Conference on Climate Change/ICCC-11) yang diselenggarakan di RMIT University, Melbourne, Australia, pada 10–11 November 2025.

Dalam konferensi tersebut, Indonesia turut diwakili oleh sejumlah akademisi, salah satunya Prof Rahmawaty, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara atau USU, yang menjadi delegasi dari Tanah Air. Kehadirannya menegaskan peran aktif kalangan akademisi Indonesia dalam percakapan ilmiah global mengenai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Dalam sambutannya, Prof Hartono menyampaikan bahwa konferensi ini bukan hanya sekadar pertemuan ilmiah, tetapi sebuah forum penting “ketika sains bertemu dengan kemanusiaan, saat gagasan berubah menjadi tindakan, dan kolaborasi menumbuhkan harapan.” Ia menekankan bahwa perubahan iklim terus mengguncang fondasi kesejahteraan manusia — mulai dari ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, hingga sistem air dan mata pencaharian, terutama di kawasan ASEAN.

“Atas nama UNS, saya ingin menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Prof Alec Cameron, Rektor dan Presiden RMIT University, atas dukungan dan komitmennya dalam kolaborasi bermakna ini,” ujar Prof Hartono.

Ia menambahkan bahwa kerja sama antara RMIT University dan UNS, yang juga melibatkan akademisi dari berbagai universitas di Indonesia seperti USU, membuktikan bahwa kerja sama akademik internasional mampu melampaui batas negara dan budaya, menyatukan dunia pendidikan tinggi dalam satu tujuan bersama — mewujudkan pengetahuan, inovasi, dan aksi nyata demi keberlanjutan planet ini.

Prof Rahmawaty dari USU, yang turut hadir sebagai perwakilan Indonesia, menyambut baik semangat kolaboratif ini. Menurutnya, konferensi seperti ICCC-11 membuka ruang penting bagi para peneliti Indonesia untuk berkontribusi pada wacana ilmiah global, khususnya dalam bidang pengelolaan hutan berkelanjutan dan adaptasi iklim berbasis ekosistem tropis.

“Indonesia memiliki pengalaman yang kaya dalam konservasi dan pengelolaan sumber daya alam. Melalui forum ini, kita dapat membagikan praktik terbaik dan membangun kerja sama lintas negara yang lebih kuat,” ujarnya.

Prof Hartono menegaskan bahwa bagi UNS, kolaborasi dengan RMIT University memiliki arti strategis.

“Ini adalah wujud komitmen kami terhadap internasionalisasi, menjadi bukan hanya universitas untuk Indonesia, tetapi universitas untuk dunia,” ungkapnya.

Ia berharap konferensi ini menjadi wadah pertukaran wawasan bagi para ilmuwan ASEAN untuk merancang strategi adaptif yang sesuai dengan karakter lingkungan dan sosial ekonomi kawasan.

Dengan partisipasi aktif tokoh-tokoh akademik seperti Prof Rahmawaty dari USU dan dukungan pimpinan universitas seperti Prof. Hartono dari UNS, Indonesia menunjukkan kiprahnya dalam mendorong solusi ilmiah dan kolaboratif bagi masa depan yang lebih tangguh, adil, dan berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/Y)