PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Profesor Rahmawaty, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim ke-11 (11th International Conference on Climate Change/ICCC-11) yang diselenggarakan di RMIT University, Melbourne, Australia, pada 10–11 November 2025.

Konferensi bergengsi ini menghadirkan para akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas solusi konkret terhadap tantangan perubahan iklim dan tata guna lahan global. Dalam sambutannya, Prof Tim Marshall, Wakil Rektor Bidang Desain dan Konteks Sosial serta Wakil Presiden RMIT University, menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dan menekankan pentingnya momen ini sebagai titik balik dalam kolaborasi global menghadapi krisis iklim.

“Dengan diselenggarakannya COP 30 di Brasil bulan ini, tantangan dalam mengatasi risiko perubahan iklim melalui strategi untuk kota maupun wilayah pedesaan akan semakin menjadi sorotan dalam diskusi publik dan politik,” ujar Prof Marshall.

Ia juga menyoroti dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, kesejahteraan, keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, dan sistem air, yang dirasakan secara nyata di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.

Kehadiran Prof Rahmawaty menjadi representasi penting bagi Indonesia dalam forum ilmiah internasional ini. Ia membawa perspektif pengelolaan hutan berkelanjutan dan adaptasi iklim berbasis masyarakat, yang menjadi salah satu fokus penelitian di Fakultas Kehutanan USU. Menurutnya, keterlibatan akademisi Indonesia di forum seperti ICCC-11 sangat penting untuk memperkuat kontribusi ilmiah kawasan tropis dalam mitigasi perubahan iklim global.

“Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara megabiodiversitas. Pengalaman kita dalam pengelolaan hutan, lahan gambut, dan restorasi ekosistem dapat menjadi pembelajaran berharga bagi dunia,” ujar Prof Rahmawaty di sela-sela kegiatan.

Ia juga menekankan perlunya memperkuat jejaring riset dan kolaborasi internasional agar hasil penelitian dapat diimplementasikan secara nyata di tingkat kebijakan dan masyarakat.

Prof Tim Marshall dalam sambutannya juga menggarisbawahi pentingnya kemitraan antara Australia dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Ia secara khusus menyebut kolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan berbagai institusi di kawasan sebagai bagian dari komitmen RMIT untuk memperkuat jejaring akademik regional.

“Kemitraan seperti ini sangat penting bagi Australia dalam membangun pemahaman dan solusi lintas batas terhadap isu keberlanjutan,” ujarnya.

RMIT University melalui inisiatif seperti Regenerative Futures Institute, Planetary Civics Inquiry, dan RMIT Enabling Impact Platforms terus memperkuat komitmennya terhadap pendidikan dan riset berkelanjutan. Dukungan terhadap konferensi ICCC-11 ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam mencari solusi kolektif terhadap tantangan perubahan iklim.

Dengan kehadiran Prof Rahmawaty dan para akademisi ASEAN lainnya, konferensi ini diharapkan menjadi momentum penting bagi penguatan peran Indonesia dan Asia Tenggara dalam menentukan arah kebijakan dan riset perubahan iklim global ke depan. (TESTI PRISCILLA/y)