BORNEONEWS, Sampit - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyatakan tiga investor besar menargetkan pembangunan kawasan industri khususnya pengembangan hilirisasi mineral.
“Sampai hari ini ada tiga pihak yang menawarkan atau menyatakan minat berinvestasi di Pulau Hanaut. Dua di antaranya berfokus pada bauksit, sedangkan satu lagi berskala besar dengan konsep kawasan industri terpadu,” kata Kepala DPMPTSP Kotim Diana Setiawan di Sampit, Senin, 10 November 2025.
Diana menyebutkan, tiga kelompok investor besar telah menyatakan minat serius mereka mengembangkan proyek hilirisasi mineral di kawasan pesisir Kecamatan Pulau Hanaut, dengan perkiraan nilai investasi yang dapat mencapai angka fantastis Rp160 triliun.
Dari tiga peminat tersebut, dua di antaranya fokus pada komoditas bauksit di sekitar Desa Ganepo. Sementara itu, satu investor lainnya memiliki visi yang jauh lebih ambisius, membangun kawasan industri terpadu yang mencakup pengolahan bauksit, batubara, silika dan zirkon.
"Hingga saat ini, ada tiga pihak yang secara aktif menyatakan minat untuk berinvestasi di Pulau Hanaut. Dua pihak bersifat spesifik pada bauksit dan satu pihak lagi adalah proyek berskala masif dengan konsep integrated industrial estate,” jelas Diana.
Ia melanjutkan, dari ketiga peminat tersebut, baru satu pihak yang telah secara resmi mengajukan izin kepada Pemerintah Kabupaten Kotim. Diana Setiawan menekankan bahwa proyek yang direncanakan melampaui pembangunan pabrik peleburan (smelter) biasa.
Rencana tersebut mencakup penciptaan kawasan industri mandiri, lengkap dengan fasilitas pendukung vital seperti pembangkit listrik sendiri serta akomodasi, termasuk hotel, untuk menampung tenaga kerja dan tamu industri.
“Mereka berencana menciptakan kawasan ekonomi terpadu. Ini bukan sekadar pabrik pengolahan, melainkan satu klaster industri yang mandiri dengan semua fasilitas pendukung lengkap,” ucapnya.
Saat ini, proyek tersebut masih berada dalam tahap teknis di mana investor melakukan penelitian tanah dan studi kelayakan (feasibility study). Sosialisasi kepada masyarakat luas baru akan dilakukan setelah lokasi dipastikan dan komitmen investasi benar-benar final.
Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah daerah optimistis realisasi proyek hilirisasi dan smelter ini memberikan dorongan ekonomi signifikan bagi Kotim, mulai dari penciptaan lapangan kerja baru, kenaikan nilai properti, pergerakan ekonomi lokal, hingga kontribusi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).









