PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Lembaga Minyak Pambelum Kalimantan Tengah, Dr Rawing Rambang menegaskan pentingnya membangun kemitraan strategis di sektor perkebunan sawit yang berlandaskan pada kearifan lokal, keadilan sosial, dan kesejahteraan bersama.

Hal tersebut disampaikan Rawing Rambang dalam kegiatan Dialog Interaktif bertema “Pengembangan Kemitraan Strategis Berbasis Kearifan Lokal untuk Mewujudkan Perkebunan Sawit Berkelanjutan”, yang diselenggarakan oleh Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) di Hotel Grand Zury Malioboro, Yogyakarta, 11–13 November 2025.

Dalam paparannya, Rawing Rambang yang juga dikenal sebagai akademisi dan mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah ini menjelaskan bahwa konsep kebun plasma sejak awal dirancang untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan. Melalui pola ini, perusahaan perkebunan berperan membantu masyarakat membangun dan mengelola kebun sawit secara produktif dan berkelanjutan.

“Tujuan utama kebun plasma adalah berbagi kesejahteraan kepada rakyat. Inti harus hadir membantu plasma, bukan hanya secara teknis tetapi juga dalam hal manajemen dan akses pembiayaan,” ujar Rawing Rambang kepada Borneonews.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa sistem kemitraan hanya dapat berjalan baik jika didukung oleh kebijakan yang berpihak, serta adanya transparansi dan partisipasi masyarakat lokal. Menurutnya, faktor-faktor seperti ketersediaan lahan yang adil, tenaga kerja yang terjamin haknya, serta tata kelola yang akuntabel menjadi penentu keberhasilan model kemitraan sawit berkelanjutan.

Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalteng ini juga menyoroti perlunya sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan lembaga adat dalam memperkuat peran masyarakat lokal agar mereka tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi turut menjadi subjek yang menentukan arah pengelolaan sumber daya alam di wilayahnya.

“Kearifan lokal adalah fondasi sosial yang harus dihormati. Pola kemitraan yang baik akan lahir jika perusahaan memahami nilai-nilai masyarakat sekitar dan menjadikannya bagian dari strategi keberlanjutan,” tegasnya.

Kegiatan yang diikuti sekitar 80 peserta ini merupakan upaya BGA Group memperkuat komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga adat, LSM, dan kelompok masyarakat mitra. Melalui forum seperti ini, perusahaan berharap dapat memperluas dialog konstruktif untuk menciptakan praktik perkebunan yang produktif sekaligus berkeadilan sosial. (TESTI PRISCILLA/j)