PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di sebuah ruang pertemuan di Hotel Grand Zury Malioboro, Yogyakarta, suasana siang itu terasa hangat. Puluhan peserta dari berbagai daerah, anggota kemitraan, perwakilan perusahaan, hingga tokoh masyarakat menyimak dengan seksama setiap kalimat yang diucapkan oleh Dr Rawing Rambang.

Dengan gaya bertutur tenang namun berwibawa, Ketua Lembaga Minyak Pambelum Kotawaringin Timur itu mengurai satu demi satu gagasan tentang bagaimana seharusnya kemitraan di sektor perkebunan sawit dibangun. Bukan hanya soal produktivitas dan ekonomi, melainkan juga tentang keadilan sosial dan penghormatan terhadap kearifan lokal.

“Menanam sawit itu bukan sekadar menanam pohon ekonomi,” ujar Rawing Rambang membuka paparannya.

“Kita sedang menanam nilai, membangun hubungan, dan memastikan masyarakat ikut tumbuh bersama perusahaan," tambahnya.

Pernyataan itu segera menjadi benang merah dari sesi dialog bertema “Pengembangan Kemitraan Strategis Berbasis Kearifan Lokal untuk Mewujudkan Perkebunan Sawit Berkelanjutan”, yang digelar oleh Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) pada 11–13 November 2025.

Bagi Rawing Rambang, yang lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia perkebunan—mulai dari staf Dinas Perkebunan hingga menjabat Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah—kemitraan sawit bukan hanya urusan teknis antara “inti” dan “plasma”. Ia melihatnya sebagai sebuah proses membangun peradaban baru di pedesaan.

“Kebun plasma diciptakan agar rakyat sejahtera. Tapi jangan lupa, di balik angka dan tonase, ada manusia yang hidup di sekitar kebun itu,” katanya dengan nada lembut namun tegas.

Menurut Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini, praktik kemitraan sering kali gagal karena hanya mengejar efisiensi ekonomi tanpa memahami konteks sosial dan budaya masyarakat setempat. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan kemitraan justru bergantung pada pengakuan dan penghargaan terhadap kearifan lokal.

“Kearifan lokal bukan hambatan, melainkan fondasi sosial yang memperkuat keberlanjutan,” ucap Sekretaris Eksekutif Gapki Cabang Kalteng ini lagi.

Dirinya melanjutkan, jika perusahaan dan masyarakat saling memahami nilai-nilai itu, maka sawit bukan lagi sumber konflik, melainkan sumber kemakmuran bersama”

Selama sesi diskusi, sejumlah peserta dari kalangan koperasi dan lembaga adat menanggapi dengan antusias. Mereka mengakui pentingnya pendekatan humanis dalam pengelolaan kebun. Banyak yang merasa pandangan Rawing Rambang mewakili semangat baru dalam dunia perkebunan: bahwa keberlanjutan sejati lahir dari keadilan sosial.

Kegiatan yang diikuti sekitar 80 peserta dari anggota kemitraan, staf BGA Region, hingga perwakilan lembaga sosial ini tidak hanya menjadi forum akademik, melainkan juga ruang refleksi bersama.

Bagi Rawing Rambang, dialog seperti ini adalah momentum berharga untuk menyatukan perspektif.

“Perusahaan tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga masyarakat. Keduanya harus saling menopang,” ujar Dosen Ilmu Pertanian Universitas Kristen Palangka Raya atau UKPR ini menutup sesi dengan senyum hangat.

Di akhir acara, banyak peserta bertepuk tangan panjang. Tidak sedikit yang mendekati Rawing untuk berdiskusi lebih lanjut. Di wajah mereka tampak semangat baru, bahwa di balik sawit, ada nilai-nilai luhur yang bisa tumbuh jika kemitraan dibangun dengan hati. (TESTI PRISCILLA/y)