PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Akademisi sekaligus Ketua Lembaga Minyak Pambelum Kalimantan Tengah, Dr Rawing Rambang, menjadi salah satu pembicara dalam Dialog Interaktif bertema “Pengembangan Kemitraan Strategis Berbasis Kearifan Lokal untuk Mewujudkan Perkebunan Sawit Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) di Hotel Grand Zury Malioboro, Yogyakarta.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk mitra perkebunan, pegiat perkebunan kelapa sawit, serta perwakilan lembaga masyarakat dan perusahaan. Forum ini menjadi ruang diskusi terbuka untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku usaha dan masyarakat dalam mendorong tata kelola perkebunan sawit yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Rawing Rambang menegaskan bahwa kebun kemitraan di Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani, asalkan dijalankan berdasarkan prinsip keadilan, transparansi, dan keberlanjutan. Ia mengingatkan bahwa kemitraan bukan sekadar hubungan ekonomi, melainkan instrumen sosial yang dapat memperkuat fondasi pembangunan pedesaan.

“Kebun kemitraan bisa menjadi motor penggerak ekonomi rakyat, tetapi tanpa regulasi yang tegas dan konsisten, pengawasan yang efektif, serta pemberdayaan petani yang nyata, kemitraan justru berisiko memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi di pedesaan,” ujar Rawing Rambang dalam sesi dialog.

Lebih lanjut, Rawing menyampaikan bahwa kemitraan yang ideal harus mampu memberikan ruang partisipasi bagi petani dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam aspek pembiayaan, pengelolaan hasil, dan akses pasar. Ia juga menyoroti perlunya sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan lembaga adat untuk memastikan sistem kemitraan berjalan sesuai nilai-nilai kearifan lokal.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi bagian dari komitmen BGA Group untuk memperkuat kemitraan berkelanjutan dengan masyarakat, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan guna mewujudkan tata kelola perkebunan yang inklusif dan berdaya saing.

Dengan pandangan yang tajam dan pengalaman panjang di dunia perkebunan, Rawing Rambang menegaskan bahwa sawit berkelanjutan tidak bisa dibangun hanya dengan pendekatan teknis dan ekonomi semata, melainkan harus disertai kebijakan yang berpihak dan pemberdayaan sosial yang berkeadilan. (TESTI PRISCILLA/y)