SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Aktivitas nelayan di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur lumpuh selama tiga hari terakhir akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir selatan.

Kepala Desa Ujung Pandaran, Taufik mengatakan hampir seluruh nelayan di desanya memilih berhenti sementara karena kondisi laut yang tidak bersahabat.

“Air laut pasang besar, naik tinggi sekali disertai angin kencang. Daerah Kalap Cabang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Seruyan bahkan terdampak banjir rob. Sekitar 90 persen nelayan sementara ini istirahat dulu sampai cuaca kembali normal,” ujar Taufik, Kamis, 13 November 2025.

Ia menambahkan, sebagian nelayan memanfaatkan waktu untuk merawat kebun atau memperbaiki peralatan tangkap ikan. Namun jika cuaca kembali stabil, mereka akan kembali melaut seperti biasa.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di wilayah pesisir selatan Kotim.

Prakirawan BMKG, Rahmat Wahidin Abdi, menjelaskan peningkatan tinggi gelombang diperkirakan terjadi pada 13–15 November 2025 dengan ketinggian mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di perairan Teluk Sampit.

“Angin bertiup dari arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan maksimum sekitar 20 knot. Kondisi ini juga dibarengi dengan potensi hujan ringan hingga sedang pada siang hingga malam hari,” kata Rahmat.

BMKG mengimbau agar nelayan menunda aktivitas melaut untuk sementara waktu demi keselamatan. Sebab jika kecepatan angin di atas 15 knot dan gelombang lebih dari 1,25 meter, perahu nelayan berisiko tinggi mengalami kecelakaan. Sedangkan untuk kapal tongkang, risiko meningkat saat gelombang mencapai 1,5 meter. (DEWI PATMALASARI/R)