KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Banjarmasin - Pernyataan blak-blakan politisi nasional, Ganjar Pranowo, yang menyebut Kota Banjarmasin, "keren, tapi kotor banyak sampah," saat dialog di Gedung Batas Kota pada 12 November lalu, sontak menjadi sorotan dan memantik reaksi beragam dari masyarakat Kalimantan Selatan. 

Kritik yang disampaikan secara terbuka oleh tokoh sekelas Ganjar ini, alih-alih memicu kemarahan, justru disambut dengan penerimaan yang objektif dan bahkan dijadikan cermin atas masalah kebersihan yang sudah lama mengakar.

Pada Sabtu, 15 November 2025, Borneonews telah menemukan respons masyarakat Kalsel. Sentilan Ganjar, yang viral di media sosial Kalsel, dianggap oleh sebagian besar warga sebagai penilaian yang jujur dan objektif. 

"Lain pendukung pak ganjar, ampun maaf tapi ada bujurnya jua sidin," ujar Alfi, mewakili suara hati banyak orang yang mengakui fakta tersebut.

"Terima kasih masukannya Pak Ganjar. Semoga pemko dan pemprov segera membenahi kota Banjarmasin, terutama sungainya. Sehingga ke depannya menjadi Banjarmasin Bungas," tutur Helmi, warga Banjarmasin lainnya yang menunjukkan harapan besar agar kritik ini menjadi momentum perbaikan serius oleh pemerintah daerah.

Menunjuk Diri Sendiri: Budaya Membuang Sampah

Namun, sorotan tajam Ganjar tidak hanya diarahkan kepada pemerintah. Warga Kalsel, dengan kesadaran kolektif, juga mulai menunjuk diri sendiri. Ahnad berujar, 

"Jika memang fakta nya, tidak bisa menyalahkan pemerintah, kita masyarakat ini kebiasaan buang sembarangan." respons Ahmad, warga lainnya yang menggarisbawahi akar masalah yang jauh lebih dalam yakni kebiasaan dan budaya membuang sampah sembarangan.

Dari pantauan lapangan Borneonews beberapa waktu lalu masih sering mendapati tumpukan sampah di pinggiran selokan dan samping rumah di permukiman padat Banjarmasin. Di kota yang identik dengan sungai dan rumah panggung, sampah seringkali dianggap 'hilang dari pandangan' dengan hanya dilempar ke luar jendela atau pintu.

Solusi Jangka Panjang: Mengubah Kebiasaan Menjadi Budaya Bersih

Warga lain, seperti Kiki, bahkan memberikan masukan yang komprehensif, mengakui bahwa memperbaiki masalah ini tidak mudah karena membuang sampah sembarangan sudah menjadi budaya. Kiki mengusulkan solusi jangka panjang yang melibatkan edukasi dan penegakan hukum yang tegas.

Usulannya meliputi pembiasaan di sekolah dan tempat ibadah, nasihat dari tokoh agama, serta effort dari pemerintah yang straight. Salah satu langkah konkretnya adalah membuat percontohan di tingkat RT dengan menyediakan tempat sampah terpilah (plastik dan non-plastik), diikuti dengan pembuatan Perda yang mengatur hukuman denda atau kurungan bagi pelanggar.

PR Besar untuk "Kota Seribu Sungai"

Pernyataan "keren tapi kotor" ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) yang sangat besar bagi Pemerintah Kota Banjarmasin. Di satu sisi, kota ini memiliki potensi keindahan arsitektur dan keunikan tata ruang berbasis air yang diakui Ganjar sebagai "keren." Di sisi lain, potensi tersebut terancam oleh masalah sampah yang akut, yang bukan hanya tanggung jawab Pemkot, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. 

Mengubah kebiasaan lama menjadi budaya bersih memerlukan kolaborasi, komitmen jangka panjang, dan keberanian pemerintah untuk bertindak tegas. 

"Kritik Ganjar ini harus menjadi cambuk bagi masyarakat maupun pemerintah," tegas Kiki. (SABRIANOOR/H)