BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah meningkatnya tantangan global seperti perubahan iklim, kesehatan publik, hingga ketahanan energi, kolaborasi riset antarnegara menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Kerja sama lintas batas dianggap sebagai kunci untuk memastikan ilmu pengetahuan mampu menghadirkan solusi yang berdampak luas. Semangat inilah yang diusung dalam Global Research Council (GRC) Regional Meeting yang digelar di Jakarta pada awal November 2025.
GRC merupakan organisasi internasional yang menghimpun para pimpinan lembaga pendanaan riset dari seluruh dunia. Melalui wadah ini, negara-negara anggota saling bertukar data, pengalaman, serta praktik terbaik dalam pendanaan dan pelaksanaan riset. Kehadiran GRC juga membantu mendorong terbentuknya ekosistem ilmu pengetahuan global yang lebih kuat, efisien, dan berorientasi pada penyelesaian isu-isu bersama.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menegaskan pentingnya keterlibatan Indonesia dalam GRC.
“Collaboration is a key,” ujarnya saat membuka pertemuan regional tersebut.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya dan riset menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan nilai tambah, pemanfaatan, serta keberlanjutan sumber daya tersebut.
“Dengan berkolaborasi, kita tidak hanya belajar dari negara lain, tetapi juga memperluas dampak penelitian kita di tingkat global,” katanya dalam rilis BPDP pada Minggu, 16 November 2025.
GRC sendiri memiliki enam tujuan utama, mulai dari meningkatkan komunikasi dan kerja sama antar lembaga pendanaan riset, mendorong berbagi data dan praktik terbaik, menyediakan forum pertemuan rutin, hingga mengeksplorasi mekanisme baru untuk memperkuat ekosistem ilmu pengetahuan global. Upaya ini sekaligus mencegah tumpang tindih penelitian dan mendorong penggunaan sumber daya yang lebih efisien.
Salah satu pihak yang turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP yang menjadi mitra BRIN dalam pendanaan riset perkebunan, khususnya sawit. Sesuai mandat Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024, dana yang dihimpun BPDPKS juga difokuskan untuk penelitian dan pengembangan.
Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, menilai BPDPKS memiliki peluang besar untuk memperluas kerja sama pendanaan riset dengan negara-negara anggota GRC.
“Misalnya riset terkait posisi pasar kelapa sawit sebagai bagian dari minyak nabati. Jika dilakukan melalui co-sharing dengan negara lain, hasil riset tersebut akan lebih objektif dan memiliki dampak internasional yang kuat,” jelasnya.
Sinergi ini sekaligus membuka jalan bagi tema-tema riset nasional untuk masuk dalam agenda global.
Tahun ini, GRC Regional Meeting mengusung dua isu besar yang menjadi sorotan dunia, yaitu Inclusive Open Science and AI for Equity, Justice, and Sustainability serta Research for Sustainable Communities. Kedua tema tersebut akan menjadi dasar penyusunan masukan menuju GRC Annual Meeting 2025. Melalui berbagai sesi diskusi, peserta diharapkan dapat berbagi pengalaman, memperluas wawasan regional, serta merumuskan tindakan nyata untuk memperkuat riset yang inklusif dan berkelanjutan.
Hasil diskusi di Jakarta akan menjadi pijakan penting dalam menyusun agenda GRC Annual Meeting 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Bangkok, Thailand. Indonesia, melalui BRIN dan dukungan berbagai lembaga termasuk BPDPKS, berharap momentum ini dapat memperkuat peran riset nasional di kancah internasional sekaligus membuka jalan bagi kolaborasi riset global yang lebih luas. (TESTI PRISCILLA/J)









