PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa minyak sawit memainkan peran sentral dalam menjaga ketahanan pangan dunia. Dengan volume produksi dan konsumsi terbesar dibanding minyak nabati lain, sawit menjadi komponen tak tergantikan dalam struktur pangan global.

“Minyak sawit telah menjadi tulang punggung industri pangan modern. Ketersediaannya besar, stabil, dan dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dunia,” ujar Eddy pada Senin, 17 November 2025.

Menurutnya, salah satu pilar utama ketahanan pangan adalah affordability atau keterjangkauan harga. Dalam konteks ini, minyak sawit menjadi instrumen paling efektif. Data PASPI Monitor (2022) menunjukkan harga minyak sawit secara konsisten lebih rendah daripada minyak kedelai, rapeseed, dan biji bunga matahari.

“Harga sawit yang lebih murah dan stabil membuat produk pangan tetap terjangkau bagi berbagai kelompok masyarakat, terutama yang berpendapatan menengah ke bawah,” lanjutnya.

Riset internasional turut menguatkan peran strategis sawit. Sejumlah studi, seperti Kojima et al. (2016) dan Cui & Martin (2017), menunjukkan bahwa ketika harga minyak nabati lain naik, konsumsi minyak sawit meningkat sebagai substitusi. Artinya, sawit membantu meredam gejolak harga global.

Pangsa konsumsi minyak sawit dalam empat minyak nabati utama dunia pun terus meningkat. Dari 24 persen pada 1980 naik menjadi 42 persen pada 2021. Ini mencerminkan tingginya preferensi, sekaligus meningkatnya ketersediaan minyak sawit di pasar global.

“Dengan perannya yang begitu besar, keberlanjutan industri sawit tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi bagi seluruh dunia karena terkait langsung dengan stabilitas pangan global,” kata Eddy. (TESTI PRISCILLA/j)