PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, memaparkan perubahan signifikan pola konsumsi minyak nabati dunia. Menurutnya, minyak sawit kini menjadi pilihan utama di banyak negara karena harganya lebih terjangkau dan aplikasinya luas untuk industri pangan.

“Minyak sawit kini menjadi minyak paling banyak dikonsumsi di dunia. Bahkan di negara yang tidak menjadikan sawit sebagai minyak utama, tren kenaikan konsumsinya terlihat jelas,” kata Eddy pada Selasa, 18 November 2025.

Di Uni Eropa, minyak rapeseed masih menjadi yang paling banyak dikonsumsi, namun minyak sawit menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun. Hal serupa terjadi di Amerika Serikat, di mana minyak kedelai mendominasi tetapi penggunaan minyak sawit terus meningkat terutama untuk industri pengolahan makanan.

Sementara di China, minyak kedelai menduduki posisi puncak karena negeri itu menjadi produsen terbesar minyak kedelai. Namun China tetap menjadi importir minyak sawit terbesar kedua dunia, terutama untuk kebutuhan industri katering dan mie instan.

“Kebutuhan industri pangan China yang masif membuat minyak sawit menjadi pilihan penting karena pasokannya stabil dan harganya lebih murah dibanding minyak nabati lain,” jelas Eddy lagi.

Kondisi berbeda terlihat di India. Negara berpenduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa itu justru menjadikan minyak sawit sebagai minyak nabati nomor satu yang paling banyak dikonsumsi. Karena produksi domestik tidak mampu memenuhi permintaan, India mengandalkan impor dan menjadi importir minyak sawit terbesar di dunia.

Eddy menegaskan bahwa perubahan pola konsumsi ini menunjukkan posisi strategis sawit dalam ekonomi global.

"Minyak sawit mampu menjangkau semua lapisan masyarakat dunia. Dari produk industri modern hingga kebutuhan rumah tangga, sawit menawarkan keterjangkauan dan efisiensi,” ujarnya.

Menurutnya, tren tersebut menjadi peluang sekaligus tanggung jawab bagi Indonesia sebagai produsen terbesar.

“Kita harus memastikan keberlanjutan, produktivitas, dan pasokan sawit tetap terjaga agar dapat terus mendukung kebutuhan pangan dunia,” tutur Eddy. (TESTI PRISCILLA/H)