BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Sebuah fenomena menarik dan tak biasa terjadi belakangan ini di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hingga merambah ke sebagian daerah Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Jika biasanya masyarakat memburu bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, kini tren justru berbalik arah. Warga terlihat lebih gencar mencari BBM jenis Pertamax dibandingkan Pertalite yang biasanya menjadi primadona.
Pergeseran preferensi konsumen ini berdampak langsung pada ketersediaan stok di lapangan. Berdasarkan keterangan warga, stok Pertamax di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terbilang langka dalam dua hari terakhir. Kelangkaan ini memicu pemandangan antrean panjang kendaraan di jalur pengisian Pertamax di berbagai SPBU kawasan Kalimantan Selatan, sementara jalur Pertalite terlihat lebih lengang dari biasanya.
Pemicu utama perpindahan haluan masyarakat ini disinyalir bukan karena harga, melainkan kekhawatiran terhadap performa mesin kendaraan. Isu mengenai kualitas pembakaran yang menyebabkan mesin tersendat menjadi alasan kuat warga beralih.
"Olehnya ada khawatir brebet itu kemarin Pertalite, makanya banyak yang beralih ke Pertamax," ujar Izul, salah seorang warga Handil Bakti, Selasa, 18 November 2025.
Dampak dari fenomena ini tidak hanya dirasakan di SPBU resmi, tetapi juga merembet hingga ke tingkat pedagang eceran di pinggir jalan. Para pengendara kini lebih selektif dan cenderung menanyakan ketersediaan Pertamax di kios-kios eceran.
Selisih harga yang cukup tipis, yakni di kisaran Rp2.000, tampaknya tidak lagi menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih tinggi tersebut.
Kondisi ini membuat penjualan Pertalite di tingkat pengecer mengalami penurunan yang cukup signifikan. Para pedagang yang biasanya bisa menjual stok Pertalite dengan cepat, kini harus menghadapi kenyataan bahwa dagangan mereka lebih lama habis. Minat pembeli yang menurun drastis menjadi keluhan baru bagi para pelapak bensin eceran yang tersebar di perbatasan Kalsel-Kalteng.
"Eceran Pertalite sunyi, biasanya 20 botol sehari sekarang bisa 10-an saja, lawan (sedangkan) banyak orang bertanya Pertamax," tukas Yudi, warga Kapuas.
Fenomena ini menjadi anomali tersendiri di tengah masyarakat yang biasanya sangat sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Kesediaan warga merogoh kocek lebih dalam demi menghindari risiko kerusakan mesin menunjukkan adanya perubahan prioritas konsumen. (SABRIANOOR/j)









