PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat kondisi pengangguran di daerah tersebut pada Agustus 2025 dalam data perkembangan ekonomi Kalteng Triwulan III tahun 2025 menunjukkan variasi yang cukup tajam jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan. Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, mengatakan bahwa perbedaan capaian pendidikan masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peluang seseorang terserap di pasar kerja.

“TPT berdasarkan pendidikan selalu menunjukkan pola distribusi yang variatif setiap tahunnya. Ini mencerminkan dinamika kebutuhan pasar kerja yang terus berubah,” ujar Agnes pada Rabu, 19 November 2025.

Menurut BPS, kelompok lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi, yakni 5,82 persen pada Agustus 2025. Sementara itu, TPT terendah berada pada tamatan SD ke bawah, yang hanya mencapai 2,56 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan risiko menganggur.

Agnes menjelaskan bahwa sejumlah kategori pendidikan justru mengalami perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“TPT pada lulusan SMA, SMK, serta Diploma I/II/III mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2024. Ini indikasi positif bahwa pasar kerja mulai menyerap lebih banyak tenaga kerja terampil menengah,” ungkapnya.

Penurunan terdalam terjadi pada lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang turun hingga 3,23 persen poin, menjadi salah satu capaian terbaik tahun ini. Menurut Agnes, perbaikan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya permintaan tenaga kerja teknis di sejumlah sektor produktif.

Namun demikian, bukan semua jenjang pendidikan mengalami tren penurunan. BPS mencatat TPT lulusan universitas justru mengalami peningkatan tertinggi, yakni bertambah 0,86 persen poin hingga mencapai 4,68 persen pada Agustus 2025.

“Ini menunjukkan adanya mismatch atau ketidaksesuaian antara keahlian lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja yang tersedia,” jelas Agnes.

Ia menegaskan bahwa temuan ini menjadi catatan penting bagi pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri agar dapat meningkatkan keselarasan kurikulum dan kebutuhan dunia usaha.

“Kami berharap data ini dapat menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, terutama dalam peningkatan kualitas SDM di Kalimantan Tengah,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/j)