BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan pentingnya peran minyak sawit dalam mendukung ketahanan pangan global sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Hal ini disampaikan menyusul meningkatnya konsumsi minyak sawit secara global yang menjangkau hampir seluruh negara di dunia.
“Ketergantungan masyarakat internasional terhadap minyak sawit semakin tinggi. Maka dari itu, aspek keberlanjutan dalam produksi dan pengelolaan minyak sawit menjadi sangat krusial,” ujar Eddy pada Kamis, 20 November 2025.
Dalam konteks keberlanjutan, minyak sawit menunjukkan keunggulan signifikan dibandingkan minyak nabati lainnya. Berdasarkan data dari PASPI Monitor, indeks deforestasi akibat ekspansi lahan sawit tercatat hanya 150 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan minyak kedelai (956 persen), bunga matahari (827 persen), dan rapeseed (614 persen).
“Minyak sawit justru berkontribusi dalam penghematan lahan secara global. Ini penting untuk mencegah deforestasi dalam skala yang lebih luas,” jelas Eddy.
Isu hilangnya keanekaragaman hayati kerap dikaitkan dengan industri sawit. Namun, studi oleh Beyer et al. menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki jejak kehilangan keanekaragaman hayati (Species Richness Loss/SRL) paling rendah dibandingkan minyak nabati lain. SRL minyak kedelai tercatat 184 persen lebih tinggi dari sawit, rapeseed 179 persen, dan bunga matahari 144 persen.
“Jika kita bicara soal dampak terhadap biodiversitas, minyak sawit justru paling minim. Ini fakta ilmiah yang perlu disampaikan secara objektif,” tegas Eddy.
Dari sisi emisi karbon, minyak sawit juga unggul. Emisi karbon per liter minyak sawit jauh lebih rendah dibandingkan minyak kedelai (425 persen lebih tinggi), rapeseed (242 persen), dan bunga matahari (225 persen). Bahkan dibandingkan minyak zaitun, kelapa, dan kacang tanah, sawit tetap menjadi yang paling efisien dalam hal emisi.
“Ini membuktikan bahwa sawit bukan hanya efisien secara ekonomi, tapi juga ramah lingkungan,” tambah Eddy.
Dalam hal kebutuhan air, kelapa sawit hanya memerlukan sekitar 75 meter kubik air untuk menghasilkan satu GJ bioenergi. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rapeseed (184 m³), kelapa (126 m³), dan kedelai (100 m³). Hanya tebu yang lebih efisien dari sawit dalam hal ini.
“Dengan kebutuhan air yang rendah, sawit sangat cocok dikembangkan di negara tropis seperti Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi,” ujar Eddy.
Eddy Abdurrahman menekankan bahwa perdebatan soal keberlanjutan minyak nabati seharusnya tidak hanya berfokus pada isu deforestasi atau emisi semata, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi lahan, emisi, dan dampak terhadap biodiversitas secara menyeluruh.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah deforestasi terjadi atau tidak, tapi komoditas mana yang paling efisien dan paling minim dampaknya. Dan data menunjukkan, jawabannya adalah minyak sawit,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/Y)









