KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Gelar Grandmaster (GM) merupakan puncak prestasi yang diimpikan oleh setiap atlet catur, namun jalan untuk mencapainya tidak hanya membutuhkan kecerdasan taktik di atas papan hitam-putih. Selain latihan keras, disiplin tinggi, dan mental baja, faktor biaya kini menjadi kendala utama yang dihadapi oleh para pecatur modern. 

"Syarat mutlak untuk menyandang gelar GM adalah memiliki rating ELO yang menembus angka 2500, sebuah pencapaian yang memerlukan partisipasi rutin dalam berbagai kompetisi tingkat tinggi," ungkap Amrullah Hasibuan, Master Internasional yang dimiliki Kalteng kepada Borneonews, Sabtu, 22 November 2025.

Realitas di lapangan menunjukkan hitung-hitungan biaya yang fantastis untuk mengejar rating tersebut. Seorang narasumber bergelar Master Internasional (MI) mengungkapkan bahwa satu kali mengikuti turnamen di Eropa bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 30 juta. 

"Tantangannya, jika seorang pecatur bermain bagus dalam turnamen tersebut, penambahan rating yang didapat mungkin hanya sekitar 5 poin. Akumulasi poin inilah yang membuat proses menuju GM menjadi sangat panjang dan mahal," jelas Amrullah.

Jika seorang pecatur membutuhkan tambahan 500 poin rating untuk mencapai standar GM, ia setidaknya harus mengikuti sekitar 100 kali kejuaraan internasional. Dengan asumsi biaya per turnamen mencapai puluhan juta, total dana yang harus disiapkan bisa menyentuh angka Rp 3 miliar. Angka ini menggambarkan betapa mahalnya investasi yang harus dikeluarkan oleh seorang atlet atau sponsor untuk melahirkan satu orang Grandmaster baru.

Selain faktor finansial, terdapat pula jenjang teknis yang harus dilalui, dimulai dari gelar Master Nasional (MN). Untuk menjadi MN, seorang pecatur harus mendapatkan dua kali norma MN, yaitu menembus 6 kali kemenangan dalam 9 babak di setiap event.

"Namun, memiliki norma saja tidak cukup; pecatur tersebut juga harus memastikan ratingnya menembus angka 2200. Jika syarat rating ini belum terpenuhi, gelar MN belum bisa disahkan," tambah Amrullah.

Kompleksitas ini semakin menegaskan bahwa uang bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan. Meskipun seseorang memiliki dana hingga Rp 10 miliar sekalipun, hal itu tidak menjamin gelar Grandmaster dapat diraih jika kemampuan caturnya tidak setara dengan juara dunia. Kombinasi antara bakat luar biasa, dukungan finansial yang masif, dan konsistensi performa menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Amrullah yang kini memiliki rating FIDE 2169 menceritakan pengalamannya dalam meniti karier catur internasional. Ia sering menggunakan dana pribadi yang dikumpulkan dari hasil juara turnamen lokal dan nasional untuk membiayai keberangkatannya ke ajang internasional. 

Hal ini membuktikan bahwa dedikasi tinggi dan kemandirian finansial sering kali menjadi modal awal bagi pecatur Indonesia untuk menembus panggung dunia sebelum mendapatkan dukungan penuh. (SABRIANOOR/J)