KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dunia catur memiliki struktur kompetisi yang sangat ketat dan berjenjang, membedakan secara tegas antara turnamen terbuka dengan kejuaraan resmi. Dalam wawancara dengan seorang Master Internasional (MI) adal Kalteng, Amrullah Hasibuan, dijelaskan bahwa proses untuk menjadi juara dunia dimulai dari tingkatan paling dasar di daerah. 

"Seorang atlet harus lolos seleksi mulai dari tingkat kota, kecamatan, hingga kabupaten sebelum bisa melangkah ke panggung nasional," ucapnya kepada Borneonews, Sabtu, 22 November 2025.

Setelah lolos dari seleksi daerah, pecatur harus membuktikan diri di Kejuaraan Nasional (Kejurnas). Keikutsertaan dalam Kejurnas tidak bisa dilakukan secara sembarangan atau melalui jalur independen, melainkan harus didaftarkan oleh Pengurus Cabang (Pengcap) Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) daerah masing-masing.

Hal ini menegaskan bahwa atlet yang bertanding di Kejurnas adalah delegasi resmi yang telah teruji kualitasnya melalui seleksi ketat, sehingga otomatis terdaftar dalam sistem rating nasional.

Jenjang berikutnya setelah menaklukkan level nasional adalah menembus level internasional yang bertingkat. Jalurnya dimulai dari lolos kejuaraan ASEAN, kemudian berlanjut ke kejuaraan Asia, hingga masuk kualifikasi zona Asia. Tahap selanjutnya adalah lolos kualifikasi dunia untuk menjadi kandidat penantang. 

"Puncaknya, pecatur tersebut akan berhadapan dalam duel 10 babak (game) melawan juara dunia bertahan untuk merebut mahkota tertinggi catur," jelasnya.

Penting untuk membedakan antara "Kejuaraan" dan "Turnamen" dalam ekosistem catur. Kejuaraan adalah event resmi yang diselenggarakan oleh PB Percasi atau FIDE (Federasi Catur Dunia), di mana peserta harus melalui proses seleksi dan biayanya biasanya ditanggung oleh pengurus cabang atau pemerintah. 

"Peserta tidak bisa menggunakan dana pribadi untuk memaksa masuk ke dalam kejuaraan resmi jika tidak lolos kualifikasi," terang Amrullah.

Sebaliknya, "Turnamen" adalah ajang yang bersifat terbuka di mana siapa saja boleh ikut asalkan bisa bermain catur dan mampu membayar biaya pendaftaran serta akomodasi. 

Biaya untuk mengikuti turnamen, baik di dalam maupun luar negeri, umumnya menggunakan dana pribadi. Banyak pecatur profesional memanfaatkan turnamen terbuka ini untuk mengasah kemampuan dan menaikkan rating mereka di luar agenda resmi federasi.

Sebagai contoh nyata, Amrullah yang merupakan seorang MI menceritakan bahwa ia sering mengikuti turnamen internasional dengan biaya mandiri. Ia menyisihkan uang hadiah dari kemenangan di turnamen lokal untuk membiayai perjalanannya ke luar negeri demi mendapatkan gelar Master Internasional.

Ini menunjukkan bahwa di luar jalur resmi kejuaraan, inisiatif pribadi dalam mengikuti berbagai turnamen terbuka sangat krusial untuk membangun jam terbang dan prestasi seorang pecatur. (SABRIANOOR/j)