PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Penutupan Pesparani Katolik I Tingkat Kalimantan Tengah, yang berlangsung pada Minggu, 23 November 2025 di GOR Indoor Palangka Raya, diwarnai insiden keracunan massal yang menimpa puluhan peserta, mayoritas anak-anak dari kontingen Palangka Raya.

Sebanyak 38 orang dilaporkan mengalami gejala mual, pusing, sakit perut, dan muntah setelah mengonsumsi nasi kotak yang dibagikan sebelum acara misa penutupan. Insiden ini membuat ambulans harus hilir mudik membawa korban menuju RSUD dr. Doris Sylvanus — RS Betang Pambelum, tempat terdekat yang siap menangani kasus tersebut.

Menurut keterangan salah seorang orang tua peserta, makanan dibagikan sekitar pukul 10.00 WIB. Dua jam kemudian, gejala mulai muncul pada tiga peserta Paduan Suara Anak (PSA), sebelum akhirnya merembet ke peserta remaja hingga dewasa.

“Awalnya hanya tiga anak yang muntah, tapi semakin lama semakin banyak. Sampai pukul empat sore, korban terus bertambah,” ujarnya.

Para korban langsung mendapatkan penanganan berupa obat minum, cairan infus, serta observasi intensif dari tenaga medis rumah sakit.

Dari total 38 korban, sebagian besar telah diperbolehkan pulang hingga Senin pagi, 24 November 2025. Namun beberapa peserta masih harus mendapat perawatan intensif dan menjalani rawat inap untuk pemantauan lebih lanjut. Petugas medis memastikan kondisi para korban secara umum stabil berkat penanganan cepat yang diberikan begitu gejala pertama muncul di lokasi kegiatan.

Seorang panitia Pesparani menjelaskan bahwa mekanisme penyediaan konsumsi selama kegiatan melibatkan banyak katering berbeda. Panitia hanya menyusun menu harian, sementara pengolahan makanan dilakukan oleh berbagai penyedia yang ditunjuk secara bergantian setiap kontingen dan setiap jam makan.

“Kita masih telusuri menu makanan mana yang bermasalah. Sampai saat ini masih kita cari,” ujarnya saat menjenguk korban di rumah sakit.

Kompleksitas alur penyediaan makanan ini membuat investigasi harus dilakukan lebih cermat untuk menentukan sumber kontaminasi.

Ketua Panitia Pesparani Katolik I Kalteng, Sutoyo, menyatakan bahwa pihaknya akan mengusut tuntas insiden yang mencoreng jalannya kegiatan provinsi pertama tersebut.

“Kita masih menunggu hasil pemeriksaan dokter, juga uji laboratorium dari makanan yang diduga menjadi penyebab kejadian ini. Begitu ada informasi terbaru akan kami sampaikan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh korban serta keluarga peserta yang terdampak.

“Kami tentu tidak menginginkan hal ini terjadi,” tegasnya.

Hingga saat ini, panitia bekerja sama dengan pihak kesehatan untuk menelusuri penyebab pasti keracunan. Uji laboratorium terhadap sampel makanan dan sisa konsumsi peserta sudah dilakukan. Sementara itu, keluarga peserta dan masyarakat berharap kejadian ini menjadi evaluasi penting bagi penyelenggaraan acara-acara besar yang melibatkan banyak anak dan remaja, agar standar keamanan konsumsi dapat diperketat demi mencegah terulangnya insiden serupa. (TESTI PRISCILLA/j)