BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Panitia Pesparani Katolik I Kalimantan Tengah, Sutoyo, memastikan bahwa penanganan terhadap para korban dugaan keracunan massal masih terus berlangsung di RS Betang Pambelum.
Dari total 38 peserta yang sebelumnya dilarikan ke rumah sakit, kini tersisa 24 orang yang masih dalam pengawasan tim medis.
“Berdasarkan laporan dokter, terdapat 14 pasien yang dirawat inap, 5 orang menunggu proses pemulangan, dan 5 orang menjalani skrining lanjutan,” ujar Sutoyo saat memberikan keterangan kepada awak media di lobby rumah sakit.
Sutoyo, yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kalteng, membenarkan adanya dugaan keracunan massal dalam rangkaian kegiatan Pesparani.
Namun dia menegaskan bahwa panitia tidak akan berspekulasi mengenai adanya unsur kelalaian maupun potensi pelaporan sebelum hasil penyelidikan resmi diterbitkan.
“Biarkan instansi terkait bekerja sesuai tugasnya. Kita tidak pernah mengharapkan kejadian seperti ini, apalagi ini acara keagamaan. Harapannya tentu damai dan tenteram. Kalau musibah sudah terjadi, itu di luar kemampuan kita,” katanya.
Lebih lanjut, Sutoyo menjelaskan bahwa panitia telah meminta klarifikasi dari pihak katering mengenai seluruh proses pengolahan dan penyajian konsumsi peserta.
“Kami sudah tanyakan semuanya, dari cara memasaknya, bagaimana penyajiannya dan siapa yang mengantar. Dari penilaian saya, tempat penyajiannya sudah memenuhi syarat. Namun untuk memastikan penyebab pastinya, kita serahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya hasil uji laboratorium dan penyelidikan aparat untuk mengetahui secara akurat penyebab keracunan tersebut.
Faktor waktu konsumsi juga menjadi salah satu perhatian panitia dalam menganalisis insiden ini. Menurut Sutoyo, sebagian peserta tidak langsung menyantap sarapan yang disediakan karena mendahulukan ibadah.
“Seharusnya dimakan pagi, tapi ada yang makan siang setelah ibadah. Mungkin itu salah satu penyebab mereka jadi lebih terganggu kondisinya,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa seluruh kemungkinan tetap harus ditelusuri secara profesional.
Di tengah proses penanganan, Sutoyo berharap seluruh peserta yang masih menjalani perawatan dapat segera pulih dan kembali beraktivitas normal. “Kita doakan saudara-saudara kita segera sehat dan kembali berlatih seperti biasa,” tuturnya.
Pesparani I Kalteng sendiri telah berlangsung sejak Jumat, 21 November 2025 dan resmi ditutup pada Minggu, 23 November 2025, diikuti oleh peserta dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Tengah.(TESTI PRISCILLA)









