BORNEONEWS, Tamiang Layang – Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite dan pertamax di Kabupaten Barito Timur hingga kini belum sepenuhnya pulih setelah kelangkaan yang terjadi lebih dari sepekan terakhir.
Kondisi ini memicu lonjakan harga di tingkat pengecer hingga menembus Rp25.000 per liter dan mulai menekan aktivitas ekonomi masyarakat.
Akibat minimnya pasokan, kios-kios eceran di berbagai titik menjual pertamax dengan harga Rp25.000 per liter dan pertalite berkisar Rp18.000 per liter.
“Saya beli eceran pertamax tadi malam Rp25.000 per liter, sedangkan pertalite Rp18.000. Mau bagaimana lagi, daripada tidak bisa kemana-mana,” ujar salah satu pelaku UMKM di Tamiang Layang, Senin, 24 November 2025.
Admin SPBU 64.737.02 Longkang, Rian Noor, mengungkapkan kelangkaan mulai dirasakan sejak 10 November 2025.
Pada awalnya, pasokan masih datang meski tidak setiap hari. Namun, sejak 18 hingga 22 November lalu, distribusi benar-benar terhenti. “Sempat kosong full sekitar lima sampai enam hari,” kata Rian saat ditemui langsung di SPBU.
Dalam kondisi normal, SPBU Longkang menerima suplai 8.000 liter pertalite dan 8.000 liter pertamax setiap hari. Namun selama kelangkaan, pasokan tetap dalam jumlah tersebut tetapi tidak terjadwal rutin.
Rian menambahkan, pihak SPBU hanya menerima informasi dari PT Pertamina Unit Pemasaran VI Depot Banjarmasin bahwa terjadi krisis minyak sehingga penyaluran ke Barito Timur terganggu.
“Info dari sana hanya seperti itu. Kami tidak mendapatkan penjelasan lebih rinci terkait penyebab kelangkaan BBM,” tuturnya.
Pada 23 November 2025, pasokan mulai masuk kembali sebanyak 8.000 liter untuk setiap jenis BBM. Namun pada hari ini hanya pertalite yang dikirim sebanyak 8.000 liter.
“Kondisi belum normal dan dari Depot Banjarmasin juga belum bisa memastikan kapan pasokan kembali stabil,” jelas Rian.
Meski pasokan terganggu, Ria memastikan harga jual resmi di SPBU tetap sesuai ketentuan, yakni Rp10.000 per liter untuk pertalite dan Rp12.500 per liter untuk pertamax. “Terkait harga jual eceran yang tinggi di masyarakat, itu di luar kendali kami,” tegasnya.
Ia berharap pihak berwenang, khususnya Pertamina dan pemangku kebijakan terkait, dapat segera menyelesaikan persoalan ini demi mencegah dampak lanjutan terhadap biaya hidup dan perputaran ekonomi masyarakat Barito Timur.
“Kami berharap distribusi BBM segera normal dan masyarakat tidak semakin terbebani,” pungkas Rian. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









