SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Sudah puluhan tahun masyarakat Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mwnantikan hadirnya jaringan listrik yang stabil.

Camat Pulau Hanaut Fahrujiansyah menjelaskan, suplai listrik ke wilayahnya selama ini masih bergantung pada jaringan dari Kecamatan Seranau yang melintasi hutan. Kondisi geografis menjadi tantangan utama yang membuat layanan listrik belum optimal.

“Medannya sangat berat karena jaringan tiang dari Seranau menuju Pulau Hanaut melewati hutan. Saat terjadi hujan angin, pohon tumbang bisa menimpa kabel. Proses perbaikan juga sulit karena jalur menuju lokasi membutuhkan waktu. Pernah listrik padam sampai 21 hari,” ujar Fahrujiansyah saat RDP bersama Komisi I DPRD Kotim, Senin, 24 November 2025.

Selain sering padam, tegangan listrik juga kerap turun, menyebabkan peralatan elektronik warga tidak dapat berfungsi dengan baik. Hal ini berdampak pada aktivitas harian maupun perekonomian masyarakat.

Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah dan PLN merencanakan pembangunan tower untuk menyalurkan listrik dari Gardu Induk Bagendang, menyeberangi Pulau Lepeh, hingga ke Desa Hanaut. Bila tower baru berfungsi, jaringan lama dari Seranau akan diputus sehingga gangguan dari hutan tidak lagi memengaruhi pasokan listrik.

“Jika jaringan baru terealisasi, listrik dari Bagendang bisa langsung menyuplai Pulau Hanaut dan bahkan menjangkau Hantipan hingga Mendawai, Katingan. Kami berharap ini benar-benar dapat berjalan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, pemerintah kecamatan juga mendata sejumlah desa dan dusun yang belum menikmati listrik PLN, seperti Dusun Handil London, Dusun Grombol, Desa Bantian, dan Handil Mawar. Jika jaringan baru sudah terealisasi, pihaknya berencana mengajuka desa dan dusun untuk mendapatkan program pemasangan listrik gratis.

“Pulau Hanaut sudah terisolasi dari infrastruktur jalan. Masak listrik tidak bisa kita upayakan? Apalagi Indonesia sudah 80 tahun merdeka," tandasnya. 

Sementara itu, Asisten Manager Perencanaan PLN UP3 Pangkalan Bun Aris Aprianto mengatakan, pembangunan tower yang menjadi program strategis PLN untuk meningkatkan keandalan listrik Pulau Hanaut masih tertunda akibat belum terbitnya izin Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) dari sistem OSS pusat.

Lanjutnya, jalur listrik Kecamatan Pulau Hanaut dari Seranau saat ini rentan karena melintasi hutan dan sulit diakses. Pembersihan konduktor maupun perbaikan memakan waktu lama, terutama jika gangguan terjadi malam hari.

“Ketidakstabilan tegangan terjadi karena jalur aliran listrik sulit dibersihkan dan rawan terganggu pohon, binatang, dan faktor lain,” kata Aris. 

PLN telah menyiapkan rekonfigurasi jaringan dengan membangun empat tower khusus untuk menyeberangi sungai menuju Pulau Hanaut, dari gardu induk Bagendang melalui Pulau Lepeh. Bentang kabel yang mencapai ±1.400 meter jauh di atas standar normal SUTM 20 kV, sehingga memerlukan konstruksi khusus.

Aris mengungkapkan, seluruh material tower dan kabel sudah tersedia, dan pekerjaan konstruksi bisa selesai dalam waktu tiga bulan setelah izin terbit.

“Perizinannya sudah lama kami ajukan. Proses masih berjalan di OSS pusat. Kami berharap ada dukungan dari pemerintah daerah untuk percepatan,” imbuhnya.

PLN mengapresiasi dukungan Bupati Kotim, jajaran eksekutif, dan Komisi I DPRD atas dorongan percepatan pembangunan tower tersebut. Jika terealisasi, masyarakat Pulau Hanaut akhirnya berpeluang merasakan suplai listrik yang stabil, handal, dan minim gangguan, sebuah kebutuhan dasar yang telah dinantikan selama puluhan tahun. (DEWI PATMALASARI/y)