BORNEONEWS, Palangka Raya - Kabupaten Pulau Morotai di Provinsi Maluku Utara kembali mencuri perhatian nasional, bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga potensi komoditas perkebunannya yang unik. Pulau yang menjadi salah satu titik paling utara Indonesia ini menyimpan varietas kelapa endemik bernilai tinggi, yaitu Kelapa Bido, yang kini menjadi fokus pengembangan pemerintah.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Kementerian Keuangan, Normansyah Hidayat Syahruddin, menegaskan bahwa Kelapa Bido memiliki keunggulan yang membuatnya layak mendapat perhatian serius.
“Kelapa Bido ini varietas yang sangat unik. Pohonnya pendek, cepat berbuah, dan produktivitasnya tinggi. Potensi seperti ini harus kita dorong agar memberi manfaat besar bagi pekebun Morotai,” ujarnya pada Selasa, 25 November 2025.
Saat ini populasi Kelapa Bido telah mencapai lebih dari 300 pohon. Perkembangannya tidak terlepas dari pembangunan kebun induk yang dimulai pada 2018 dan berlanjut pada 2022. Namun, Normansyah menilai bahwa dukungan kebijakan tetap diperlukan agar komoditas endemik tersebut dapat menjadi kekuatan ekonomi daerah.
“Morotai punya kekayaan alam yang luar biasa, tetapi untuk naik kelas, diperlukan intervensi yang tepat, terutama pada sektor hulu,” tambahnya.
Normansyah menjelaskan, perluasan dukungan pemerintah terhadap perkebunan kelapa kini memiliki landasan yang kuat melalui Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan, yang diperkuat oleh Permentan Nomor 25 Tahun 2025. Regulasi tersebut memberikan mandat baru bagi BPDP yang sebelumnya fokus pada komoditas kelapa sawit.
“Dengan regulasi baru ini, BPDP juga bertanggung jawab mendukung pengembangan kelapa dari hulu hingga hilir. Ini momentum penting bagi daerah seperti Morotai,” katanya.
Untuk sektor hulu, BPDP Kementerian Keuangan telah menyiapkan dua program utama, yakni Program Peremajaan Perkebunan Kelapa dan Program Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa. Menurut Normansyah, kedua program ini dapat dimanfaatkan oleh pekebun di Morotai untuk meningkatkan produktivitas Kelapa Bido.
“Program peremajaan maupun dukungan sarana ini kita rancang agar benar-benar membantu pekebun. Morotai punya basis varietas lokal yang kuat, dan ini harus kita jaga dengan cara meningkatkan kualitas dan jumlah produksinya,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah, kelompok pekebun, dan stakeholder lain dapat menangkap peluang besar ini. Dengan dukungan penuh dari BPDP dan kebijakan strategis pemerintah pusat, Morotai berpotensi berkembang menjadi sentra kelapa nasional berbasis varietas unggulan.
“Jika ekosistem hulu diperkuat, kita bisa dorong hilirisasi dan nilai tambahnya. Pada akhirnya, kesejahteraan pekebunlah yang menjadi tujuan utama,” tutur Normansyah. (TESTI PRISCILLA/y)









