BORNEONEWS, Sampit - Warga yang tinggal di tepian Sungai Mentaya, terutama di daerah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit, sering dilanda banjir air pasang, beberapa pekan terakhir. Ini  harus diwaspadai karena kemungkinan besar ada serangan buaya maupun ular. 

“Kami selalu memantau saat banjir air pasang ini, karena genangan air sering terjadi di halaman rumah warga. Sehingga bisa jadi ada hewan seperti ular dan buaya yang naik. Dan itu harus diwaspadai,” ujar Camat Mentaya Hilir Selatan Jumberi, Jumat (25/11/2016).

Banjir air pasang ini memang kerap terjadi di wilayah selatan, terutama bagi warga yang tinggal di pinggiran Sungai Mentaya maupun anak Sungai Mentaya. Sehingga sangat rawan terjadi hal yang tidak diinginkan. Apalagi selama ini di daerah tersebut sering ditemukan buaya yang berkeliaran saat air pasang.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, banyak ternak warga yang menjadi mangsa buaya, seperti bebek dan ayam.

“Dengan adanya hal itu, kami terus mengimbau kepada warga agar berhati-hati saat melintas di halaman rumah saat banjir air pasang. Gunakan lampu senter atau penerangan lainnya. Sehingga kalau hewan berbahaya muncul bisa terlihat,” ungkap Jumberi.

Daerah Mentaya Hilir Selatan selama ini memang kerap terjadi serangan buaya muara, khususnya terhadap warga yang sedang beraktivitas di lanting yang ada di bantaran Sungai Mentaya. Ketika musim banjir air pasang ini, air dari Sungai Mentaya masuk cukup jauh ke daratan dan menggenangi rumah warga. Namun air ini juga cepat surut saat air sungai surut.

Banjir rob rawan terjadi saat musim hujan seperti sekarang ini. Curah hujan yang tinggi membuat permukaan air Sungai Mentaya naik, ditambah jika air laut sedang pasang, maka terjadilah banjir air pasang yang bisa merendam jalan dan permukiman.

Selain di Mentaya Hilir Selatan, banjir air pasang ini juga melanda warga di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Desa Pelangsian Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan beberapa desa lainnya di tepian Sungai Mentaya. (M HAMIM/m)