TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Menyikapi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi lebih dari sepekan terakhir, Tim Gabungan yang terdiri dari Bagian Ekonomi Setda Barito Timur, Polres Barito Timur, Kejaksaan Negeri Barito Timur, Binda Kalteng, Satpol PP, Dinas Perhubungan, serta DisdagkopUKM Barito Timur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPBU 64.737.02 Longkang, Selasa, 25 November 2025.

Plt Kabag Ekonomi dan SDA Setda Barito Timur, Stephanus Sepriadarma, menyampaikan bahwa sidak dilakukan sebagai respons atas antrean panjang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

“Kita melakukan pengecekan lapangan berkaitan dengan kelangkaan BBM yang terjadi lebih dari satu minggu ini,” terangnya.

Stephanus mengungkapkan, berdasarkan informasi dari pihak SPBU, keterlambatan distribusi BBM berasal dari pengiriman PT Pertamina Unit Pemasaran VI Depot Banjarmasin.

“Kalau informasi dari SPBU memang awalnya keterlambatan dalam pengangkutan atau pengiriman dari PT Pertamina Depot Banjarmasin,” jelasnya.

Stephanus menambahkan, sebelum sidak, tim sudah menerima laporan masyarakat mengenai panjangnya antrean kendaraan yang mengisi BBM di SPBU tersebut. 

“Akhirnya disepakati untuk tim gabungan melakukan pengecekan bersama di SPBU Longkang. Kita mau melihat dengan kelangkaan distribusi BBM ini, apa yang sudah dilakukan oleh SPBU,” katanya.

Dalam upaya mengendalikan situasi, SPBU Longkang menerapkan pembatasan pembelian BBM untuk mengurangi risiko pelangsiran.

“Memang sudah dilakukan langkah antisipatif yaitu dengan membatasi kendaraan roda empat dapat mengisi BBM senilai Rp400.000, sedangkan sepeda motor Rp70.000. Intinya untuk mengurangi pelangsiran pada saat kelangkaan seperti ini,” ujar Stephanus.

Selain itu, pihak SPBU juga telah meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum. “Pihak SPBU juga sudah melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum seperti Polres,” imbuhnya.

Stephanus menuturkan bahwa hasil sidak akan dilaporkan kepada pimpinan daerah untuk menentukan langkah lebih lanjut. 

“Apakah opsinya nanti kita membuat edaran pembatasan selama kelangkaan ini atau sifatnya seperti apa, atau apakah yang sudah dilakukan pihak SPBU ini sudah cukup,” pungkasnya.

Akibat kelangkaan BBM dalam beberapa hari terakhir, terjadi lonjakan harga di tingkat pengecer yang mencapai Rp25.000 untuk pertamax dan Rp18.000 untuk pertalite.

Kondisi tersebut memicu protes luas masyarakat di media sosial yang meminta pemerintah daerah dan instansi terkait agar turun tangan. Kini masyarakat masih terus berharap solusi dari pemerintah dan Pertamina agar pasokan dan harga BBM kembali normal. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)