BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kuala Kapuas terus melakukan terobosan dalam membekali keterampilan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kali ini, Rutan Kapuas menghadirkan inovasi menarik di bidang pertanian dan peternakan melalui konsep Integrated Farming.
Program ini menggabungkan budidaya ayam petelur dengan kolam ikan lele dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Konsep yang diusung cukup unik dan efisien, yakni menempatkan kandang ayam petelur tepat di atas kolam ikan lele. Pemandangan di area branggang Rutan kini tampak lebih produktif dengan deretan kandang ayam yang tersusun rapi di atas permukaan air kolam.
Kepala Rutan Kelas IIB Kuala Kapuas, Daniel Kristianto, menjelaskan bahwa metode integrated farming ini dipilih karena menciptakan simbiosis yang saling menguntungkan.
"Sistem ini dinilai sangat efektif dan berkelanjutan karena kotoran ayam yang jatuh ke dalam kolam tidak menjadi limbah, melainkan menjadi pakan alami bagi ikan lele. Hal ini secara otomatis menekan biaya produksi pakan ikan sekaligus menjaga kebersihan kandang ayam," jelasnya, Rabu, 26 November 2025.
Dalam pelaksanaannya, para WBP dilibatkan secara aktif dan mendapatkan pelatihan teknis secara langsung. Mereka diajarkan tata cara beternak ayam petelur yang baik, mulai dari prosedur pembersihan kandang, manajemen pemberian pakan, teknik pengambilan telur, hingga pemantauan kesehatan ayam agar terhindar dari penyakit. Keterampilan ini diberikan secara mendetail agar mereka benar-benar memahami seluk-beluk peternakan.
Tidak hanya fokus pada unggas, para warga binaan juga dibekali ilmu budidaya perikanan. Mereka mempelajari teknik pengelolaan air kolam agar kualitasnya tetap terjaga, cara mengontrol kualitas pakan tambahan, hingga teknik memanen ikan lele yang benar.
Kombinasi dua keterampilan sekaligus ini diharapkan menjadi modal berharga hard skill yang bisa mereka terapkan saat kembali ke masyarakat nanti.
Di sisi lain, program pembinaan berbasis produktivitas ini memiliki dampak positif terhadap mental dan psikologis para WBP. Keterlibatan mereka dalam rutinitas merawat ternak yang terstruktur setiap harinya secara tidak langsung melatih kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kerja sama tim, dan membangun kembali kepercayaan diri mereka. Hasil panen berupa telur dan ikan lele pun turut mendukung ketahanan pangan di lingkungan internal Rutan. (SABRIANOOR/Y)









