JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Agama mengatakan, santri dan alumni pesantren harus menjadi bagian dari pembentukan opini publik, riset, dan pengambilan keputusan di berbagai bidang, dan negara wajib memberikan kesempatan bagi alumni untuk berkontribusi di sektor yang relevan.

“Pesantren adalah peradaban. Dengan Ditjen Pesantren, kita ingin melahirkan generasi yang menguasai agama sekaligus memimpin teknologi. Tradisi keilmuan harus berjalan seiring dengan inovasi,” kata Wakil Menteri Agama H. Romo Muhammas Syafi'i ketika dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Dia menegaskan bahwa berdirinya Direktorat Jenderal Pesantren merupakan momentum strategis yang harus dimanfaatkan untuk memperluas peran pesantren di tengah dinamika global saat ini.

Menurutnya, pesantren memiliki modal tradisi intelektual yang kuat, tinggal didorong agar santri mampu tampil di berbagai sektor kehidupan modern.

Adapun dia bersama Wakil Menteri Agama RI bersama Ketua Rabitah Ma'ahid Islami PWNU Jawa Tengah, KH. A. Fadhullah Turmudzi dan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH. Ubaidillah Shodaqah menyampaikan arahan strategis mengenai masa depan pesantren, meliputi rekognisi alumni, penguatan kapasitas keilmuan, serta etika penggunaan teknologi dalam belajar.

Dalam Halaqah Pesantren Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren di UIN Walisongo Semarang, ketiganya menilai bahwa era baru pesantren menuntut penguatan tradisi, moral, dan kapasitas akademik, sekaligus kemampuan santri mengisi ruang digital dan ruang publik secara cerdas.

Ketua Rabitah Ma'ahid Islami PWNU Jawa Tengah, KH. A. Fadhullah Turmudzi menyoroti pentingnya rekognisi dan pengakuan terhadap alumni pesantren, terutama lulusan Ma’had Aly yang selama ini memiliki kapasitas keilmuan tinggi namun belum terserap optimal di ruang publik.

Menurut Fadhullah, alumni pesantren tidak hanya siap berdakwah, tetapi juga berperan sebagai analis kebijakan, peneliti, konsultan syariah, pendidik publik, hingga fasilitator moderasi beragama. Karena itu, ia meminta Kemenag mendorong sistem penyetaraan, akses kerja, dan ruang aktualisasi yang lebih luas.

Selain itu, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH. Ubaidillah Shodaqah memberikan pandangan mendalam mengenai efek teknologi terhadap pembelajaran pesantren. Ia menegaskan bahwa kemudahan akses informasi harus disertai kedalaman adab dan kontrol moral.

“Sesuatu yang dicapai dengan mudah akan hilang dengan mudah. Teknologi membantu, tetapi jangan sampai membuat tumpul dan menghilangkan semangat dalam mengkaji,” kata Ubaidillah.

Ia menjelaskan, santri zaman dulu membutuhkan ketekunan tinggi untuk mencari satu referensi di kitab. Namun kini, aplikasi digital memungkinkan pencarian hanya dengan mengetik kata kunci. Kemudahan ini harus dimaknai sebagai alat bantu, katanya, bukan pengganti mujahadah.

Dia menegaskan bahwa ruang digital harus diisi oleh suara pesantren. Santri, menurutnya, wajib mengambil bagian dalam produksi konten keislaman yang sehat, moderat, dan berakar pada tradisi keilmuan pesantren.

Ia juga menyinggung tantangan baru berupa penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam belajar. Informasi yang terbuka harus tetap dibatasi oleh etika, maqashid syariah, dan bimbingan moral.

Dia menilai, tantangan terbesar saat ini bukan lagi akses pengetahuan, tetapi bagaimana menjaga moral, adab, dan tujuan belajar agar tidak melenceng dari nilai-nilai pesantren.

“Tugas kita hari ini adalah mengontrol moral. Ilmu bisa didapat di mana saja, tetapi adab dan bimbingan kyai tidak bisa digantikan,” ungkapnya.

ANTARA