PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus meningkatkan taraf hidup warga di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL.

Hal itu disampaikan Prof. Ir. Dr. Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara (USU) dalam sesi plenari Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati dan Pembangunan Berkelanjutan 2025 atau iBIOSDG2025 di Langkawi, Malaysia pada Kamis, 27 November 2025.

Dalam pemaparannya berjudul “The Role of Community Participation in Managing Ecotourism in The Buffer Zone of Gunung Leuser National Park, Indonesia for Achieving SDGs”, Rahmawaty menekankan pentingnya peran kelompok masyarakat “Komunitas Bambu Leuser” dalam mengelola ekowisata Jendela Bambu Leuser (JBL).

“Masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi aktor kunci dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” ujarnya.

Penelitian yang dilakukan Rahmawaty dan tim menggunakan wawancara mendalam, kuesioner, serta diskusi kelompok terarah (FGD).

Hasilnya menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat KBL berada pada angka 33,7, yang dikategorikan tinggi. B

entuk keterlibatan mereka meliputi konservasi bambu, rehabilitasi lahan kritis, hingga pengembangan usaha berbasis bambu untuk menopang ekonomi warga.

Menurut Rahmawaty, model partisipasi ini selaras dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, tujuan 13 mengenai penanganan perubahan iklim, serta tujuan 15 terkait kelestarian ekosistem daratan.

“Ekowisata yang dikelola masyarakat memberi peluang kerja sambil tetap menjaga keseimbangan ekologis,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dukungan berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan masih diperlukan. Kolaborasi tersebut diyakini dapat memperkuat manfaat positif yang telah muncul dari inisiatif ekowisata di kawasan TNGL.

“Ketika masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari lingkungan yang lestari, komitmen mereka pada konservasi akan terus menguat,” tutur Rahmawaty.

Temuan ini dinilai dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang memiliki ekowisata di sekitar kawasan konservasi. Model tersebut membuktikan bahwa pelestarian dan pemanfaatan ekonomi dapat berjalan berdampingan.

“Ini adalah pembelajaran penting menuju tercapainya keseimbangan sosial-ekologis dan ekonomi,” ujar Rahmawaty menegaskan.

Selain Prof Rahmawaty, sebagai Keynote Speaker hadir Professor Emeritus Inocencio E. Buot Jr dari Institute of Biological Sciences, College of Arts and Sciences, University of the Philippines yang membawa materi bertajuk The New Conservation Science and Sustainable Biodiversity Conservation during the Anthropocene.

Hadir pula Plenary Speaker lainnya yaitu Professor Dr. Mohd Nazip Suratman, Honorary Professor and Key Associate Fellow Institute for Biodiversity and Sustainable Development, Universiti Teknologi MARA, Malaysia membawakan mmater Rebuilding the Carbon Connection: Lessons from Forest and Coastal Ecosystems.

Selain ith ada pula Professor Dr. Dixon T. Gevaña, Director of Forestry, Development Center, College of Forestry and Natural Resources, University of the Philippines Los Baños, Philippines membawakan materi Mangrove Conservation Promoting Sustainable Ecotourism and Local Resilience in Southeast Asia.(TESTI PRISCILLA/R)