BORNEONEWS, Palangka Raya - The 3rd International Conference on Biodiversity and Sustainable Development atau iBIOSDG 2025 dilaksanakan di Hotel Adya, Langkawi, selama dua hari, pada 27 hingga 28 November 2025. Sebagai forum ilmiah global, konferensi ini mempertemukan para akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas tantangan dan peluang dalam mengintegrasikan konservasi sumber daya alam dengan pembangunan ekonomi. Acara iBIOSDG 2025 secara khusus mengupas tuntas isu sentral “Eco-Tourism Bridging Biodiversity and Inclusive Development” (Ekowisata Menjembatani Biodiversitas dan Pembangunan Inklusif).
Konferensi ini diisi dengan sesi presentasi ilmiah dan diskusi panel yang produktif. Partisipasi aktif ditunjukkan oleh delegasi dari Program Studi S2 dan S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSL). Delegasi ini didampingi oleh Prof. Dr. Rauf selaku pendamping dalam seminar. Mahasiswa S3 PSL yang turut mempresentasikan hasil riset mutakhir adalah Suranto, Lukman Banurea, Darnianti Eling Tuhono, Zulfan Arico, dan Suarno, yang bersama alumni S2/S3, turut memperkuat kolaborasi riset antar-institusi.
iBIOSDG 2025 menghadirkan tokoh-tokoh terkemuka di bidang biodiversitas dan pembangunan berkelanjutan. Para pembicara utama yang memberikan pandangan strategis dalam konferensi tersebut meliputi Keynote Speaker: Professor Inocencio E Buot, Jr. (University of the Philippines Los Baños, Filipina). Kemudian ada Plenary Speaker I: Professor Dr. Dixon T. Gevaña (University of the Philippines Los Baños, Filipina). Plenary Speaker II: Prof. Ts. Dr. Mohd Nazip Suratman (Universiti Teknologi MARA, Malaysia). Plenary Speaker III: Prof. Rahmawaty (Ketua Program Studi S2 dan S3 PSL, Universitas Sumatera Utara, Indonesia).
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rahmawaty memberikan paparan ilmiah yang berharga berjudul "The Role of Community Participation & Strategy in Managing Ecotourism in The Buffer Zone of GLNP for Achieving SDGs".
Paparan tersebut menyoroti signifikansi partisipasi aktif masyarakat sebagai variabel kunci dalam pengelolaan ekowisata di zona penyangga kawasan konservasi, khususnya Taman Nasional Gunung Leuser (GLNP). Penelitian ini menegaskan bahwa strategi berbasis komunitas efektif untuk konservasi biodiversity sekaligus berkorelasi positif dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Keikutsertaan mahasiswa dan alumni PSL di forum internasional seperti iBIOSDG ini merupakan langkah krusial dalam menguji validitas riset mereka di kancah global. Presentasi yang mereka sampaikan bukan sekadar tugas akademik, melainkan kontribusi nyata yang menawarkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi isu biodiversitas dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)," kata Pendamping Delegasi, Prof. Dr. Rauf pada Kamis, 27 November 2025.
Konferensi iBIOSDG 2025 memperkuat konsensus ilmiah bahwa biodiversity adalah aset krusial yang menopang seluruh sistem kehidupan dan merupakan prasyarat fundamental bagi tercapainya pembangunan global yang berkelanjutan. Melalui pembahasan ekstensif tentang ekowisata, para delegasi menyimpulkan bahwa pengelolaan sumber daya alam yang terintegrasi dan bertanggung jawab dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Ekowisata bertindak sebagai instrumen kuat yang mendorong Konservasi Berbasis Insentif: menciptakan nilai ekonomi dari pelestarian alam, yang memberikan insentif langsung bagi komunitas untuk melindungi habitat alaminya.
Selain itu juga diharapkan dapat memberikan pemberdayaan Inklusif: menciptakan peluang kerja dan meningkatkan kapasitas masyarakat, sejalan dengan pentingnya peran aktif masyarakat dalam manajemen konservasi.
Diharapkan hasil dan rekomendasi dari iBIOSDG 2025 ini akan menjadi referensi kebijakan yang solid bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati dalam kerangka pembangunan regional dan global. (TESTI PRISCILLA/y)









