PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Rekomendasi ilmiah dari The 3rd International Conference on Biodiversity and Sustainable Development atau iBIOSDG 2025 menyimpulkan bahwa keanekaragaman hayati merupakan aset global yang menjadi prasyarat kemajuan pembangunan berkelanjutan.

Konferensi dua hari yang berlangsung di Langkawi ini menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian alam sangat bergantung pada pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

Dalam berbagai sesi diskusi, para delegasi menyepakati bahwa ekowisata yang dikelola secara integratif mampu mendorong konservasi berbasis insentif, ekonomi lokal tumbuh seiring pelestarian alam.

Selain itu juga pemberdayaan inklusif, masyarakat memperoleh peluang kerja dan peningkatan kapasitas

Hal tersebut secara langsung berkorelasi dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama terkait pertumbuhan ekonomi yang merata, perlindungan ekosistem daratan, serta aksi penanganan perubahan iklim.

Plenary Speaker dari Indonesia, Prof Rahmawaty, kembali menegaskan urgensi pendekatan kolaboratif lintas pemangku kepentingan dalam penguatan ekowisata berbasis komunitas.

“Kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Gunung Leuser, hanya dapat terjaga jika masyarakat diberi ruang untuk berdaya dan berperan langsung dalam tata kelola ekowisata,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Rauf yang mendampingi delegasi USU menyatakan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam forum internasional semacam ini membuktikan kontribusi akademisi Indonesia dalam memecahkan persoalan planet.

Rekomendasi yang dihasilkan iBIOSDG 2025 diharapkan menjadi referensi kebijakan bagi pemerintah dan mitra internasional untuk memastikan pembangunan yang tidak mengorbankan keanekaragaman hayati, melainkan memperkuatnya sebagai fondasi masa depan ekonomi yang berkelanjutan.(TESTI PRISCILLA)