PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri biomassa kelapa sawit dunia.

Selain sebagai produsen minyak sawit terbesar, Indonesia juga merupakan penghasil biomassa sawit terbesar secara global.

“Potensi biomassa sawit kita sangat besar dan merupakan peluang nyata untuk pengembangan produk berkelanjutan bernilai tinggi,” kata Eddy pada Jumat, 28 November 2025.

Menurut Eddy, perkebunan kelapa sawit menghasilkan beragam jenis biomassa seperti tandan kosong, cangkang dan serat buah, batang, hingga pelepah kelapa sawit.

Biomassa tersebut menjadi sumber daya penting yang dapat diolah menjadi energi alternatif dan berbagai material industri yang tengah berkembang di dunia.

Ia menjelaskan, dengan luas perkebunan kelapa sawit pada 2025 diperkirakan mencapai 16,8 juta hektare, maka potensi biomassa yang dapat diproduksi Indonesia mencapai sekitar 261,7 juta ton bahan kering per tahun.

“Jumlah ini tiga kali lipat lebih besar dari produksi minyak sawit mentah atau CPO. Artinya, selama ini kita baru memanfaatkan sebagian kecil dari kekayaan industri sawit,” ucapnya lagi.

Melalui teknologi konversi seperti thermochemical, biological, chemical, hingga physical conversion, biomassa sawit dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi, antara lain bioenergi, bioplastik, biochar, biomaterial, hingga pupuk organik.

“Transformasi ini sejalan dengan agenda hilirisasi pemerintah dan pengembangan ekonomi hijau,” kata Eddy.

Ia menambahkan, biomassa sawit memiliki lima keunggulan utama: merupakan produk gabungan dari industri sawit, tersedia sepanjang tahun dalam jumlah besar dan terkonsentrasi, berbiaya rendah, rendah emisi karbon, serta tidak menimbulkan food-fuel trade-off.

“Keunggulan ini menjadikan biomassa sawit sebagai solusi energi terbarukan yang kompetitif,” ucapnya.

Eddy memastikan BPDP terus mendorong riset, investasi, dan kerja sama industri untuk mempercepat pemanfaatan biomassa sawit.

“Kami ingin mengubah pandangan bahwa biomassa hanya limbah. Ini adalah peluang emas yang bila dioptimalkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional, menciptakan industri baru, dan mendukung komitmen Indonesia terhadap penurunan emisi karbon,” tutur Eddy Abdurrahman.(TESTI PRISCILLA)