BORNEONEWS, Palangka Raya - Rangkaian kegiatan 3rd International Conference on Biodiversity and Sustainable Development atau iBIOSDG 2025 ditutup dengan sesi kunjungan lapangan atau Field Study Trip yang berfokus pada studi kasus ekowisata di Langkawi pada Jumat, 28 November 2025. Kunjungan ini dirancang sebagai jembatan penting antara teori yang dipresentasikan dalam seminar dan praktik pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Delegasi dari Program Studi S2 dan S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan atau PSL Universitas Sumatera Utara turut serta dalam kegiatan studi lapangan ini. Rombongan didampingi oleh Prof A Rauf serta Prof Rahmawaty dan melibatkan mahasiswa S3 yaitu Suranto, Zulfan Arico, Darnianti dan Suarno, serta alumni S2 Agroteknologi yaitu Munawarah dan Ade Fitria. Kunjungan lapangan bertujuan untuk mengamati secara langsung implementasi tema konferensi, Eco-Tourism Bridging Biodiversity and Inclusive Development.
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Kilim Karst Geoforest Park, sebuah situs yang diakui secara global. Di sini, para delegasi melakukan observasi mendalam mengenai keanekaragaman hayati kawasan hutan mangrove dan formasi karst yang unik.
Kunjungan ini memberikan pemahaman konkret mengenai tantangan dan strategi konservasi berbasis geo-ekowisata, terutama bagaimana kawasan ini memberikan manfaat ekonomi dan pendidikan kepada masyarakat tanpa mengorbankan integritas ekologis.
Agenda dilanjutkan dengan meninjau dinamika pariwisata di Pantai Cenang serta kunjungan ke Dataran Helang (Eagle Square). Sesi interaksi dengan pelaku usaha lokal, termasuk pembelian oleh-oleh seperti cokelat, menjadi pengamatan penting mengenai rantai nilai pariwisata dan kontribusinya pada pembangunan ekonomi komunitas.
Kunjungan lapangan ini menghasilkan banyak perspektif dan harapan dari seluruh anggota delegasi. Prof Rahmawaty, Ketua Program Studi S2/S3 PSL Universitas Sumatera Utara menegaskan nilai dari kegiatan ini.
"Field study ini esensial. Langkawi menawarkan model nyata yang sangat relevan untuk tema ekowisata berkelanjutan yang kami presentasikan. Para mahasiswa tidak hanya membawa pulang teori, tetapi juga studi kasus nyata yang dapat memperkaya data dan analisis riset mereka," kata Prof Rahmawaty.
Sementara Prof A Rauf, Pendamping Delegasi menambahkan, pemaparan langsung di lapangan seperti ini krusial.
"Harapan kami, eksposur internasional dan observasi langsung ini dapat memperkuat kualitas riset PSL dan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang kuat bagi pengelolaan sumber daya alam di Indonesia," tutur Prof Rauf.
Dari kalangan mahasiswa S3, Suranto berharap dapat mengaplikasikan model partisipasi komunitas Langkawi ke dalam konteks disertasinya. Lainnya, Zulfan Arico mengungkapkan bahwa melihat pengelolaan Geoforest Park secara langsung telah memperkaya pemahamannya tentang tantangan menyeimbangkan konservasi biodiversitas dengan kebutuhan pembangunan.
Sementara Suarno menyampaikan harapannya agar bukti lapangan ini dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang lebih aplikatif dan berdampak.
Alumni S2 Agroteknologi USU juga berbagi pandangan mereka. Munawarah berharap dapat mereplikasi aspek-aspek keberhasilan model ekowisata inklusif Langkawi di wilayahnya. Senada, Ade Fitria menyampaikan, kolaborasi riset dan field trip antar-universitas ini harus terus berlanjut.
"Ini adalah cara terbaik untuk memastikan ilmu yang kami dapatkan relevan dan dapat diterapkan dalam dunia kerja," tutur Ade Fitria.
Pengalaman Langkawi memperkuat konsensus ilmiah bahwa biodiversitas adalah modal dasar yang harus dipertahankan untuk menjamin pembangunan berkelanjutan. Diharapkan, data dan pengalaman yang dikumpulkan selama Field Study Trip ini akan memperkuat kualitas riset mahasiswa dan mempercepat implementasi strategi pembangunan berkelanjutan yang terintegrasi antara konservasi alam dan pemberdayaan ekonomi komunitas. (TESTI PRISCILLA/y)









