BORNEONEWS, Sampit – Di halaman Kantor Dewan Adat Dayak (DAD) Kotawaringin Timur (Kotim), suasana tampak berbeda pada pagi itu. Alunan karungut perlahan mengisi udara, berpadu dengan riuh suara ibu-ibu yang hilir-mudik di antara meja-meja panjang.
Di sela keramaian, beberapa kelompok ibu-ibu terlihat sibuk menyiapkan hidangan. Mereka bukan sekadar memasak. Mereka sedang mengikuti lomba manjuhu, sebuah tradisi memasak khas suku Dayak yang kini kembali ditampilkan dalam pagelaran seni dan budaya DAD Kotim pada 29–30 November 2025.
Manjuhu, dalam bahasa Dayak, berarti memasak atau menyayur. Namun bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, manjuhu bukan sekadar aktivitas dapur. Ini adalah simbol kebersamaan dan gotong royong.
Ketua Harian DAD Kotim Gahara menjelaskan, tradisi ini erat kaitannya dengan kegiatan manugal, yakni menanam padi secara tradisional. Pada momen itu, masyarakat akan bergotong royong menyiapkan masakan-masakan khas untuk disantap bersama.
“Manjuhu artinya memasak, khusus khas masakan dayak. Budaya ini biasanya dilakukan saat manugal. Inilah yang ingin kita bangkitkan kembali,” kata Gahara, Sabtu, 29 November 2025.
Dalam ajang lomba manjuhu, berbagai hidangan tersaji rapi, lengkap dengan label nama menu dalam bahasa Dayak. Beberapa di antaranya adalah kolak waluh, samu lauk patin, juhu bajei, kandas pati kala, juhu lampinak, kandas rimbang, danum karamunting, serta juhu asem lauk baung.
Warna-warni masakan tersebut menonjolkan bahan-bahan lokal khas Kalimantan Tengah—daun kremot, pucuk singkong, rimbang, ikan sungai, serta rempah-rempah yang tumbuh alami di hutan dan pekarangan warga.
Melalui kegiatan tersebut, DAD Kotim menyuarakan pentingnya melestarikan masakan tradisional agar tidak tergerus oleh kuliner modern dari luar daerah. Dengan menghidupkan kembali tradisi manjuhu, DAD Kotim berharap generasi muda dapat memahami dan mencintai akar budaya mereka sendiri.
Adapun lomba manjuhu diikuti 32 peserta. Selain itu, lomba karungut kategori SLTP, SLTA dan umum yang diikuti 31 peserta juga memeriahkan pagelaran pentas seni dan budaya DAD Kotim. (DEWI PATMALASARI/j)









