BORNEONEWS, Sampit – Alunan kecapi pelan mengiringi seorang pemuda yang berdiri di panggung halaman Kantor Dewan Adat Dayak (DAD) Kotawaringin Timur (Kotim). Dengan penuh percaya diri, ia mulai mengalunkan lagu berbahasa Dayak dengan nada-nada khasnya. Suaranya menyatu dengan petikan kecapi, menciptakan suasana yang membawa penonton larut dalam kekayaan budaya Kalimantan Tengah.
Pemuda itu adalah Muhammad Rafa Raisa Pratama, salah satu peserta lomba karungut dalam pagelaran seni dan budaya yang digelar DAD Kotim. Wajahnya tampak tegas, namun sorot matanya memperlihatkan kebanggaan menjadi bagian dari pelestarian budaya leluhur.
Karungut merupakan salah satu kesenian dari Kalimantan Tengah. Seni ini berbentuk syair atau pantun yang didendangkan menggunakan iringan musik tradisional.
Awalnya, karungut kerap digunakan dalam ritual kepercayaan Kaharingan. Syair-syairnya memakai bahasa Sangiang atau Ngaju Kuno dan dinyanyikan dengan nuansa sakral. Seiring perkembangan zaman, karungut lebih sering menggunakan bahasa Ngaju.
Kini, karungut tidak hanya ditemui dalam upacara adat. Ia hadir dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat sebagai pengantar tidur, nasihat bagi anak muda, hiburan, hingga media penyampai aspirasi masyarakat.
Rafa, siswa SMK Teknologi Kotawaringin, adalah salah satu contoh generasi muda yang masih menjaga kesenian karungut tersebut. Ia mengaku telah mempersiapkan penampilannya untuk mengikuti pagelaran seni dan budaya DAD Kotim selama lebih dari dua minggu.
“Kami menyiapkan baju khas, menentukan lirik dan tema karungut, serta menyesuaikan nada. Semua kami kerjakan serius,” katanya, Minggu, 30 November 2025.
Dalam lomba kali ini, Rafa membawakan karungut bertema budaya dan keberagaman. Syairnya berpesan agar masyarakat menjaga tutur, identitas suku, dan keragaman yang menjadi kekuatan Kalimantan Tengah.
Aksi panggungnya kali ini bukan kali pertama. Rafa sudah beberapa kali mengikuti lomba karungut, bahkan pernah meraih juara 2 tingkat provinsi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu. Ia menyebut itu sebagai pencapaian tertingginya sejauh ini.
Menurut Rafa, ajang yang digelar DAD Kotim sangat penting agar generasi muda terus terlibat pelestarian budaya. Pasalnya, lomba karungut kini jarang digelar di Kota Sampit.
“Ini acara yang bagus. Harapannya lomba seperti ini lebih sering diadakan, supaya kemampuan kami, khususnya para pemuda, bisa terus terasah dalam melestarikan budaya daerah,” ujarnya.
Bagi Rafa, menjaga budaya bukan berarti menolak modernitas. Ia menegaskan, generasi muda tetap bisa mengikuti perkembangan era digital, tanpa harus meninggalkan budaya nenek moyang.
“Kesenian ini adalah warisan. Kita boleh maju, tapi jangan lupa jati diri,” tambahnya.
Penampilan Rafa hanyalah satu dari banyak penampilan yang meramaikan pagelaran seni dan budaya DAD Kotim tersebut. Panitia mencatat terdapat 31 peserta lomba karungut dari kategori SLTP, SLTA dan umum. (DEWI PATMALASARI/y)









