SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Di salah satu sudut arena Pagelaran Pentas Seni dan Budaya Dewan Adat Dayak (DAD) Kotawaringin Timur (Kotim), tampak deretan tas dari anyaman purun yang tersusun rapi. Warnanya natural, desainnya telah mendapat sentuhan modern dan motifnya menarik perhatian.

Huma purun, sebuah usaha pemasaran kerajinan purun yang didirikan Krisma Drakel. Siapa sangka, bisnis yang ia tekuni ini berawal dari satu hal sederhana yaitu kecintaan pada produk lokal.

Krisma mengaku sudah lama menjadi penggemar produk-produk kerajinan nusantara. Kemana pun ia pergi, ia selalu mencari produk lokal yang khas di daerah tersebut.

“Sebenarnya saya baru mulai berdagang kerajinan purun melalui event pagelaran seni dan budaya ini. Tapi saya memang sudah lama suka memakai produk lokal,” ujarnya, Minggu, 30 November 2025.

Kecintaannya itu tumbuh bersamaan dengan kegelisahan pribadi. Sebagai perempuan yang lahir dan besar di Sampit, ia sering bingung saat hendak membawa oleh-oleh khas Kotim ketika bepergian keluar daerah.

“Tidak mungkin kita membawa Mandau ke pesawat. Jadi saya berpikir, apa oleh-oleh khas yang bisa dibawa dan dipakai? Dari situ akhirnya lahir Huma Purun,” imbuhnya. 

Kerajinan purun yang ia jual saat ini diproduksi oleh pengrajin dari Buntok, Kabupaten Barito Selatan. Krisma bahkan datang langsung ke sana untuk mencari pengrajin dan membangun komunikasi.

Sebelum terjun ke dunia kerajinan, Krisma sebenarnya bergerak di bidang kuliner. Namun banyaknya event bazar makanan membuatnya ingin mencari sesuatu yang berbeda.

“Saya ingin tetap menonjolkan budaya, tetapi beda dari yang sudah banyak ada. Akhirnya saya pilih kerajinan purun,” katanya.

Desain produk Huma Purun pun dibuat mengikuti selera pasar. Ada yang full anyaman purun, ada yang dikombinasikan dengan kulit berkualitas. Warna dan motifnya dirancang semi modern agar menarik semua usia, termasuk anak muda. Rupanya dengan desain demikian pembelinya beragam, mulai dari ibu-ibu hingga pelajar SMA.

Tidak hanya mengandalkan bazar, Krisma juga memasarkan produknya lewat media sosial. Ia melayani pembelian dari luar daerah dengan sistem pengiriman.

Harga produk pun bervarias yakni tas full purun dijual mulai Rp 25 ribu sedangkan purun kombinasi kulit mulai Rp 200 ribu, dengan bahan kulit berkualitas pilihan.

“Ini bahan yang saya pilih sendiri tidak sembarangan. Karena saya juga memakainya,” ucapnya. 

Ia mengaku sejauh ini belum menemukan tantangan berat, karena desain dan jenis produknya cukup beragam sehingga mampu menyasar pasar luas, baik pria maupun wanita.

Melalui Huma Purun, ia berharap kerajinan masyarakat Kalimantan Tengah bisa menjadi oleh-oleh khas di Kotawaringin Timur. Jika penjualan meningkat, Krisma berencana memperluas Huma Purun dengan menjual kerajinan dari eceng gondok.

Ia juga ingin menghadirkan nilai pemberdayaan. Krisma yang tergabung dalam komunitas Perempuan Pengusaha Lintas Profesi (PPLP) berharap suatu saat bisa mendatangkan pengrajin dari Buntok untuk mengajar ibu-ibu di Kotim agar terlatih menganyam purun.

“Kalau bisa, ibu-ibu di Kotim juga ikut membuat kerajinan ini. Jadi kita bisa bekerja sama dan berkembang bersama," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)