BORNEONEWS, Sampit – DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan pentingnya perencanaan yang matang sebelum pengembangan Pulau Hanibung dilakukan. Pulau yang rencananya dikembangkan sebagai kawasan ekowisata itu diharapkan tidak menjadi proyek mangkrak seperti beberapa destinasi sebelumnya.
"Jadi kita meminta pemerintah daerah agar punya konsep perencanaan yang matang agar program itu bisa berkesinambungan, berlanjut dan bermanfaat untuk warga masyarakat terutama di sekitar objek wisata ini," kata Ketua DPRD Kotim Rimbun, Minggu, 30 November 2025.
Ia mengingatkan, pemerintah daerah benar-benar menyiapkan konsep yang kuat sebelum memulai pembangunan yang dijadwalkan mulai tahun depan. Karena berkaca dari aset wisata yang pernah di bangun di Pantai Ujung Pandaran saat ini berunjung mangkrak.
“Kita harus berkaca dari pengalaman (aset wisata) yang sekarang mangkrak. Kita semua punya mata dan telinga, dan kita tahu bagaimana hasil dari beberapa program besar maupun kecil yang tidak berjalan maksimal,” imbuhnya.
Menurutnya, pengalaman terhadap berbagai proyek yang dianggap setengah gagal maupun gagal harus menjadi pelajaran penting. DPRD meminta agar pemerintah daerah menyiapkan perencanaan yang tidak hanya matang, tetapi juga berkelanjutan.
“Program harus berkesinambungan dan benar-benar bermanfaat untuk masyarakat, terutama ketika menyangkut pengembangan objek wisata seperti Pulau Hanibung,” ujarnya.
Meski demikian, dirinya tidak menolak untuk pengembangan Pulau Hanibung menjadi destinasi wisata. Sebab ia menilai Kotim masih kekurangan destinasi wisata alam, sehingga pengembangan wisata perlu digencarkan.
Dengan perencanaan yang baik, Pulau Hanibung diharapkan mampu memberikan pendapatan asli daerah (PAD) serta meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dari luar daerah maupun mancanegara.
“Objek wisata ini bisa menjadi peluang besar untuk daerah. Kita ingin orang melihat Kotawaringin Timur sebagai daerah yang aman, kondusif, dan menarik untuk dikunjungi. Bukan lagi terbayang kejadian masa lalu ketika mendengar nama Sampit di tahun 2001,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









