BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam upaya melestarikan warisan budaya dan memperkuat identitas lokal pada anak sejak usia dini, Tim Dosen dari Program Studi Pendidikan Luar Sekolah dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPPM Universitas Palangka Raya.
Kegiatan yang mengusung tema "Pengenalan Permainan Tradisional sebagai Media Penguatan Identitas Budaya" ini diselenggarakan di TK Kartika XVII-18 Palangka Raya.
Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh puluhan anak didik TK Kartika XVII-18. Tim Pengabdian, yang terdiri dari sejumlah dosen dan mahasiswa dari Prodi PLS dan PBSI, memperkenalkan dua permainan tradisional khas Kalimantan, yaitu Balogo dan Basimban (Ukau).
Balogo: Melatih Strategi dan Kerjasama Beregu
Anak-anak diperkenalkan dengan Balogo, permainan strategi yang biasa dimainkan satu lawan satu maupun beregu. Tim pengabdian menjelaskan cara bermainnya, di mana logo (terbuat dari tempurung kelapa) didirikan berderet dan para pemain harus menjatuhkan logo lawan dengan melemparkan logo miliknya menggunakan semacam tongkat/stik berbahan bambu. Permainan ini mengajarkan ketepatan, kerja sama tim, dan sportivitas. Lebih dari itu, anak-anak juga dikenalkan mengenai nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tidak egois dan kerja keras yang ditanamkan melalui permainan ini.
Basimban (Ukau): Melatih Ketangkasan dan Konsentrasi
Selain Balogo, anak-anak juga diajak bermain Basimban atau Ukau, yaitu permainan ketangkasan menggunakan lima batu kerikil kecil. Tim pengabdi memandu anak-anak melalui tahap-tahap permainan, mulai dari mengambil batu satu per satu, dua-dua, hingga menelungkupkan batu secara bersamaan. Permainan ini melatih koordinasi mata dan tangan, konsentrasi, serta kesabaran. Kegagalan dalam satu tahap memberikan kesempatan kepada pemain lain.
Ketua Tim PkM, Ade Yusuf Ferudyn, menyampaikan bahwa di era digital ini, anak-anak semakin jarang mengenal permainan tradisional sehingga perlu untuk mendapatkan eksposur tentang permainan tradisional yang ada di daerahnya.
“Kami memilih permainan Balogo dan Basimban karena selain menyenangkan, permainan ini adalah warisan leluhur yang patut dilestarikan. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya ingin anak-anak bergerak aktif, tetapi juga menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya lokal Kalimantan Tengah sejak usia dini. Kegiatan PkM ini adalah salah satu upaya penguatan identitas budaya yang konkret ditengah derasnya arus globalisasi yang mengancam keberadaan budaya lokal” kata Ade Yusuf dalam rilisnya kepada Borneonews pada Senin, 1 Desember 2025.
Sementara itu, Kepala TK Kartika XVII-18 Palangka Raya, Utin Masniah, menyambut baik inisiatif ini. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Anak-anak sangat senang dan antusias. Mereka baru pertama kali mengenal permainan Balogo dan Basimban. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk mengalihkan perhatian anak dari gawai sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kita sendiri. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut ke depannya,” tuturnya.
Selain praktik langsung, tim pengabdian juga menyampaikan penjelasan sederhana tentang asal-usul dan makna dari setiap permainan, sehingga anak-anak tidak hanya bermain tetapi juga memahami konteks budayanya. Dukungan dari mahasiswa juga terlihat dalam mendampingi dan membimbing anak-anak selama permainan berlangsung, menciptakan atmosfer yang ceria dan edukatif.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini diharapkan dapat menjadi pionir bagi terlaksananya program serupa di taman kanak-kanak lainnya di Kota Palangka Raya. Dengan demikian, permainan tradisional Kalimantan dapat tetap lestari dan menjadi bagian dari memori kolektif generasi penerus bangsa. (TESTI PRISCILLA/j)









