PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Provinsi Kalimantan Tengah tetap mencatat surplus neraca perdagangan luar negeri sebesar US$2.857,64 juta sepanjang Januari hingga Oktober 2025, meskipun nilai ekspor dan impor mengalami penurunan signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, nilai ekspor tercatat sebesar US$2.890,41 juta, turun 11,06 persen dibandingkan Januari–Oktober 2024. Penurunan terbesar terjadi pada ekspor hasil tambang, terutama batu bara, yang anjlok hingga 21,73 persen.

Sementara itu, nilai impor Kalimantan Tengah selama periode yang sama mencapai US$32,77 juta, turun drastis sebesar 36,13 persen. Penurunan impor paling signifikan terjadi pada komoditas pupuk dan mesin/peralatan mekanik.

Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Kalimantan Tengah, M Taufiqurrahman, menjelaskan bahwa meski ekspor menurun, surplus tetap terjadi karena nilai impor jauh lebih kecil dibanding ekspor.

“Komoditas utama ekspor adalah batu bara, CPO, karet remah, kayu olahan, kayu lapis, serta bijih zirconium, niobium, dan tantalum,” ujar Taufiqurrahman pada Senin, 1 Desember 2025.

Adapun komoditas impor didominasi oleh aspal, mesin ekstraksi, mesin freeze dryer, ketel uap, sapi, mesin motor tempel, dan pupuk. Negara tujuan utama ekspor Kalimantan Tengah masih didominasi oleh Jepang, India, dan Tiongkok.

"Sementara itu, Malaysia, Singapura, dan Tiongkok menjadi pemasok utama barang impor ke provinsi ini," tuturnya.

Surplus neraca perdagangan ini menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah masih memiliki daya saing ekspor yang kuat, meskipun tantangan harga dan permintaan global terhadap komoditas tambang seperti batu bara terus berfluktuasi. (TESTI PRISCILLA/j)