PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Srikandi PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Barat (UIP KLB) melalui PLN Unit Pelaksana Proyek Kalimantan Bagian Barat 3 (UPP KLB 3) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya keselamatan sejak dini. Kali ini, edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) diberikan kepada siswa SMP Negeri 6 Palangka Raya, dengan menghadirkan dua narasumber perempuan PLN, yaitu Hayun Saputri dan Pawestri Cendani Jantiningrum.

Materi edukasi yang disampaikan meliputi prinsip dasar K3, cara mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar, hingga tindakan tepat saat menghadapi kondisi darurat seperti kebakaran. Penyampaian materi dikemas secara interaktif dan sederhana agar mudah dipahami oleh pelajar tingkat SMP, termasuk contoh situasi nyata yang sering ditemui di rumah maupun sekolah.

Sebagai pembicara, Hayun Saputri menyampaikan bahwa edukasi K3 harus dipahami oleh semua kalangan, termasuk perempuan. “Keselamatan bukan hanya urusan laki-laki, perempuan juga harus sadar K3. Kalau kita paham bahaya dan tahu apa yang harus dilakukan saat darurat, maka kita bisa melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang di sekitar kita,” ujarnya.

Kehadiran dua narasumber perempuan dalam kegiatan ini juga menjadi inspirasi bagi siswa, khususnya siswi SMP Negeri 6 Palangka Raya. Melalui peran aktif Srikandi PLN, pesan keselamatan disampaikan sekaligus menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama pentingnya dalam pekerjaan teknis, edukasi keselamatan, dan penanggulangan bencana.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMP Negeri 6 Palangka Raya, Samsullianor Perdana, mengapresiasi kegiatan ini. “Siswa kami tidak hanya diberikan teori, tetapi juga dibangun kesadarannya untuk peduli terhadap keselamatan. Ini sangat bermanfaat karena ilmu seperti ini tidak selalu mereka dapatkan di kelas, dan dapat langsung diterapkan di rumah maupun lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Manager PLN UPP KLB 3, Muhamad Indra Firdaus, menegaskan bahwa kegiatan edukasi K3 seperti ini terus dilakukan sebagai bentuk kepedulian PLN terhadap keselamatan masyarakat. “Kami ingin membentuk rantai pengetahuan keselamatan di masyarakat. Dimulai dari anak-anak, agar ketika mereka besar, mereka sudah terbiasa dengan budaya peduli bahaya dan tanggap darurat,” jelasnya.

General Manager PLN UIP KLB, Susilo, menambahkan bahwa keterlibatan pegawai perempuan dalam kegiatan edukasi merupakan bagian dari komitmen PLN dalam menguatkan nilai keberagaman dan kesetaraan. “Srikandi PLN bukan hanya simbol keberagaman, tetapi motor perubahan. Kehadiran mereka di sekolah-sekolah membuktikan bahwa perempuan PLN dapat menjadi juru keselamatan sekaligus inspirasi bagi generasi muda,” ujarnya.

PLN berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian terhadap potensi bahaya di lingkungan sekitar, membentuk perilaku tanggap darurat, dan mendorong siswa menjadi agen keselamatan bagi keluarga dan masyarakat. (ANSHARI/J)