BORNEONEWS, Sampit – DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong pemerintah daerah berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait penanganan konflik buaya yang terus meningkat.
Hal ini penting dilakukan karena kewenangan penanganan satwa liar perairan, termasuk buaya muara, kini telah berpindah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) ke KKP.
“Banyak laporan masyarakat terkait predator buaya. Bahkan buaya sudah menampakkan diri di Pantai Ujung Pandaran. Pemerintah daerah harus segera berkoordinasi dengan KKP untuk menentukan langkah penanganan yang tepat, karena kewenangan sudah berpindah dari BKSDA ke KKP,” kata Wakil Ketua II DPRD Kotim Rudianur, Rabu, 3 Desember 2025.
Peralihan kewenangan penanganan buaya tersebut berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 yang merevisi UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sejak Agustus 2024, seluruh pengelolaan satwa liar di wilayah perairan secara resmi berada di bawah KKP.
Diketahui, Kotim dikenal sebagai daerah dengan risiko tinggi konflik manusia dengan buaya. Sepanjang Januari hingga November 2025, sudah terjadi enam kasus serangan, beberapa di antaranya berujung kematian.
Sehingga ia menilai perlu ada perwakilan KKP ditugaskan di Kotim. Atau jika tidak memungkinkan, pemerintah daerah setidaknya membentuk tim khusus. Karena penanganan predator air tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Harus diupayakan adanya perwakilan KKP di Kotim. Jika tidak memungkinkan, perlu dibentuk tim khusus untuk menangani konflik buaya sekaligus merumuskan langkah pencegahannya,” tandasnya.
Adapun, daftar kasus konflik buaya di Kotim sepanjang Januari-November 2025 yaitu:
1. 13 Januari 2025 – Sari (30) disambar buaya saat mencuci pakaian, mengalami luka di kaki.
2. 4 April 2025 – Sani (35) diserang saat mandi di sungai dan ditemukan meninggal dunia.
3. 3 Mei 2025 – Samsul Anwar diserang buaya saat berwudu, mengalami luka di tangan kanan.
4. 21 Juli 2025 – Nursehan (62) diserang saat mandi, mengalami luka di tangan kanan.
5. 27 Oktober 2025 – Itai (65) disambar buaya saat sikat gigi di tepi sungai, mengalami luka di kaki.
6. 22 November 2025 – Muhran (63) diterkam saat mencari udang dan ditemukan tewas dengan kondisi tubuh tidak utuh. (DEWI PATMALASARI/H)









