SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Curah hujan tinggi sepanjang 1–5 Desember 2025 menyebabkan enam desa di tiga kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terdampak banjir. Meluasnya dampak banjir membuat BPBD Kotim mulai mempertimbangkan penetapan status siaga banjir.

"Sangat dimungkinkan (penetapan status siaga banjir). Akan kami lakukan kaji cepat untuk perluasan kejadian," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Jumat, 5 Desember 2025.

Sebelumnya diberitakan, banjir meluas melanda dua wilayah di Kecamatan Mentaya Hulu, yakni Desa Tanjung Jariangau dan Kelurahan Kuala Kuayan.

Banjir, di Desa Tanjung Jariangau kini mencapai ketinggian 70–80 sentimeter dan turut menggenangi fasilitas pendidikan, SDN 3 Tanjung Jariangau. Dalam foto yang diterima BPBD, tampak seorang anak berenang di tengah genangan banjir yang melanda kawasan tersebut.

Sementara itu, di Kelurahan Kuala Kuayan, banjir terpantau menggenangi kawasan Pelangkong dengan tinggi air sekitar 15 sentimeter di atas badan jalan.

Di Kecamatan Telaga Antang, banjir menerjang Desa Rantau Suang setelah hujan deras mengguyur wilayah itu selama 11 jam sejak 1 Desember 2025 pukul 02.00 WIB hingga 2 Desember 2025 pukul 13.00 WIB. Beruntung, banjir di desa itu dilaporkan surut pada 3 Desember 2025.

Kemudian di Kecamatan Tualan Hulu, tiga desa terdampak banjir cukup parah, yaitu di Desa Luwuk Sampun, Merah, dan Tumbang Mujam. Di Luwuk Sampun, badan jalan sepanjang 300–350 meter terendam dengan ketinggian air mencapai 120–130 sentimeter, sehingga akses darat warga lumpuh total. Warga kini mengandalkan jalur sungai yang juga sangat terbatas.

Desa Merah turut mengalami banjir dengan tinggi air 60–100 sentimeter. Jalan tanah sepanjang 400–500 meter terendam dan tak bisa dilewati kendaraan, sehingga fasilitas kesehatan terganggu. Sedikitnya 12 rumah dan 13 KK atau sekitar 40 jiwa terdampak di desa tersebut. BPBD bahkan menggunakan perahu karet untuk membantu warga menyeberangi jalan poros yang terputus total. Begitu pula tenaga kesehatan di wilayah tersebut harus menggunakan perahu untuk mengunjungi warga dari rumah ke rumah.

Di Desa Tumbang Mujam, banjir semakin meluas akibat tingginya curah hujan serta air kiriman dari hulu. Berdasarkan informasi dari Sekretaris Desa Dolik, sejumlah warga telah mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman. Fasilitas umum seperti gereja, balai basarah, pasar desa, gedung serbaguna, hingga kantor desa lama juga terendam. Selain itu, akses menuju sekolah turut terendam, sehingga kegiatan belajar sementara dihentikan demi keselamatan.

Di sisi lain, Multazam menyampaikan bahwa banjir rob di wilayah selatan menjadi perhatian nasional akan terjadi pada 6-13 Desember 2025 dipicu posisi bulan terdekat dengan bumi (parigee). Ia khawatir rob bertepatan dengan hujan lebat di hulu, yang dapat memicu pasang ekstrem dan menghambat aliran sungai.

"Itu yang kita khawatirkan beberapa anak sungai di wilayah hulu sudah naik. Apabila terjadi hujan berulang dengan durasi yang cukup panjang akan menahan muka air banjir di beberapa daerah di wilayah utara," katanya.

Terdapat 3 kecamatan rawan rob menurut catatan BPBD yaitu Teluk Sampit terutama Desa Ujung Pandaran, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, bahkan bisa meluas hingga Mentawa Baru Ketapang seperti pada kejadian November lalu di Desa Pelangsian.

Meski banjir rob biasanya hanya terjadi 4-5 jam, Multazam mengingatkan agar masyarakat tetap waspada. (DEWI PATMALASARI/y)