KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Sebuah rumah kayu tua di Barimba, Kecamatan Kapuas Hilir, kembali menjadi sorotan setelah unggahan media sosial mengenai kondisinya yang memprihatinkan menarik perhatian masyarakat.

Bangunan yang diyakini sebagai peninggalan Letnan Tiongkok Chiang Bai itu kini tampak rapuh dimakan usia. Dari kejauhan terlihat sederhana, namun ketika didekati, setiap detail ukiran kayu dan struktur rumah mengisyaratkan kisah panjang tentang masa yang pernah hidup di dalamnya.

Rumah tersebut bukan hanya menjadi penanda fisik masa lalu, tetapi juga simbol perjumpaan budaya yang pernah mewarnai Barimba. Menurut catatan sejarah lokal, kawasan ini merupakan salah satu titik awal perkembangan sosial dan keagamaan di Kapuas Hilir. Pada abad ke-19, wilayah tersebut menjadi tempat masuknya para misionaris yang memperkenalkan agama modern kepada masyarakat setempat, sekaligus melahirkan dinamika baru dalam kehidupan warga Dayak dan etnis lain di sekitarnya.

Pada awal 1930-an, Barimba juga dikenal sebagai lokasi pelayanan kesehatan pendahulu, tempat para misionaris membuka perawatan bagi warga, termasuk penderita kusta. Sisa struktur kayu lama, gereja tua, serta rumah peninggalan tokoh-tokoh masa itu menjadi bukti nyata betapa Barimba pernah menjadi pusat pertemuan spiritual dan budaya yang hidup berdampingan. Kini, rumah yang dikaitkan dengan figur Chiang Bai menjadi salah satu saksi penting dari periode sejarah tersebut.

"Saat ini tidak ada penghuninya. Bangunan ini sudah lama kosong, tetapi masih menjadi bagian dari lanskap lama Barimba, dan masih dikenal warga sebagai bagian dari sejarah di Kapuas Hilir," ungkap John, pegawai Kecamatan Kapuas Hilir, Sabtu, 6 Desember 2025.

Unggahan mengenai kondisi terkini rumah itu memantik reaksi hangat dari warga. Banyak yang menyayangkan kurangnya perhatian terhadap bangunan bersejarah tersebut. Komentar-komentar netizen dipenuhi rasa prihatin sekaligus kekaguman terhadap nilai historis rumah yang disebut-sebut memiliki ukiran khas Melayu dan struktur kayu yang masih menunjukkan keaslian masa lampau. Tidak sedikit pula warga yang mengungkapkan kedekatan emosional karena pernah melihat atau tinggal di sekitar bangunan tersebut.

Sebagian besar masyarakat menilai bahwa rumah tersebut seharusnya dapat dijadikan objek wisata budaya jika dipugar tanpa menghilangkan keasliannya. Beberapa warga bahkan meminta pemerintah daerah dan dinas terkait untuk segera mengambil langkah penyelamatan sebelum bangunan itu roboh atau hilang ditelan waktu. 

"Wah saya ingat betul saat dulunya ke Kapuas dengan rumah ini. Kasihan tidak dipelihara oleh Pemerintah. Padahal jika dipelihara akan sangat bagus untuk kenangan dan betul ini pernah jadi rumah sakit dulunya oleh misionaris," ucap Gio, salah satu warga Kapuas yang merespons hal ini.

Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Selain sebagai aset sejarah penting, rumah tua di Barimba memiliki potensi besar untuk menjadi pusat edukasi, destinasi wisata budaya, sekaligus ikon identitas lokal Kapuas Hilir. Pelestarian bangunan semacam ini dinilai tidak hanya menghidupkan kembali jejak masa lalu, tetapi juga membuka ruang untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

Kini, masyarakat menunggu langkah nyata pihak berwenang. Rumah peninggalan Chiang Bai itu tidak sekadar bangunan tua, ia adalah fragmen penting perjalanan Barimba. Upaya mengenali, merawat, dan melestarikannya menjadi harapan bersama agar warisan sejarah tersebut bisa terus menceritakan kisahnya, bukan hanya bagi warga Kapuas Hilir, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin memahami keberagaman sejarah yang pernah tumbuh di tepian Kapuas. (SABRIANOOR/H)