PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Setiap penghujung tahun, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Palangka Raya secara rutin menggelar kegiatan ritual mamapas lewu atau upacara penanaman kepala hewan kurban. 

Kegiatan budaya dan keagamaan ini telah menjadi tradisi yang dipertahankan selama bertahun-tahun, dengan tujuan untuk memohon keselamatan dan kedamaian bagi seluruh kota.

Ritual mamapas lewu sendiri merupakan bagian dari warisan budaya lokal yang erat kaitannya dengan keyakinan masyarakat.

Dalam upacaranya, kepala hewan kurban (biasanya sapi atau kambing) ditanam di tempat yang telah ditentukan oleh pihak adat dan agama, sebagai tanda penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan permohonan berkah bagi kota Palangka Raya.

Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, menyatakan bahwa Pemerintah Kota sangat mendukung kegiatan berkaitan dengan pelestarian budaya, khususnya ritual keagamaan seperti mamapas lewu.

Ia menekankan bahwa tujuan ritual ini sangat baik, yaitu untuk memohon keselamatan dan kedamaian yang diinginkan oleh semua warga kota.

"Kita harus jaga dan pelestari budaya lokal yang memiliki nilai-nilai positif seperti ini," ujar Achmad Zaini, Sabtu, 6 Desember 2025.

Kegiatan semacam ini juga bisa menjadi daya tarik budaya yang memperkenalkan kekayaan budaya Palangka Raya kepada masyarakat luar.

Acara ritual mamapas lewu tahun ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, pegawai pemerintah, hingga warga biasa. Semua hadir dengan semangat yang tinggi untuk berpartisipasi dalam upacara yang penuh makna ini.

Ia menyatakan bahwa ritual mamapas lewu akan terus diadakan setiap penghujung tahun, sebagai bentuk komitmen pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan budaya lokal. 

"Diharapkan kegiatan ini tetap berlangsung dan memberikan manfaat bagi seluruh warga Palangka Raya," pungkasnya. (MARINI/R)