PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Palangka Raya, Iin Hendrayati menyatakan bahwa kegiatan mamapas lewu tahun ini bukan hanya tradisi semata, melainkan upaya nyata dalam melestarikan budaya yang telah ada di kota Palangka Raya selama bertahun-tahun.

Ritual mamapas lewu yang juga dikenal sebagai upacara penanaman kepala hewan kurban memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat lokal. 

"Tujuan dari kegiatan ini, untuk membersihkan kampung atau kota dari sifat-sifat buruk dari segelintir oknum," ujarnya, Sabtu, 6 Desember 2025.

Selain membersihkan dari sifat buruk, Iin juga menambahkan bahwa ritual ini juga bertujuan agar Palangka Raya bisa memasuki tahun 2026 dengan keadaan yang lebih baik, jauh dari ancaman bencana alam. 

"Kita berdoa dan berupacara agar tahun depan, kota kita bebas dari bencana seperti banjir, kebakaran hutan, atau yang lain," katanya.

Ia mengutarakan upacara tahun ini diadakan di halaman kantor Disparbudpora Kota Palangka Raya, tempat yang telah ditentukan oleh tokoh adat dan agama, dengan partisipasi yang merata dari berbagai elemen masyarakat. 

Mulai dari tokoh adat, pemimpin agama, pegawai pemerintah, hingga warga biasa hadir dengan semangat untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang diharapkan memberikan berkah.

Dalam proses ritualnya, kepala hewan kurban (biasanya sapi atau kambing yang telah disembelih sesuai aturan agama) ditanam di lokasi tertentu sebagai tanda penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan simbol komitmen masyarakat untuk menjaga kebaikan di kota.

Ia mengatakan bahwa filosofi membersihkan sifat buruk dan menjauhi bencana telah menjadi inti dari mamapas lewu sejak dulu, dan penting untuk diwariskan ke generasi muda.

"Kita harap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat spiritual, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya kita sendiri saat memasuki tahun 2026," harapnya. (MARINI/R)