SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Banjir rob mulai menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sejak Jumat malam hingga Sabtu, 6 Desember 2025. Genangan air dilaporkan terjadi di beberapa titik, terutama di kawasan pesisir dan bantaran Sungai Mentaya.

Di Desa Babaung, air pasang mulai masuk ke pekarangan rumah warga pada Sabtu malam sekitar pukul 19.30 WIB. Selain permukiman, banjir rob juga merendam jalan Bapinang–Pegatan, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat setempat.

Di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, banjir rob juga terlihat menggenangi permukiman dan kawasan sekitar Pasar Samuda. Menurut Wito, warga setempat, banjir rob pertama muncul pada Jumat malam, 5 Desember 2025, kemudian surut pada pagi hari, sebelum kembali naik pada Sabtu malam.

“Wilayah ini memang langganan banjir saat air pasang tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, dari Mentaya Seberang, seorang warga bernama Bayu melaporkan bahwa wilayah Seranau telah tergenang pada Minggu dini hari, pukul 00.56 WIB. Air bahkan sudah mencapai di atas mata kaki orang dewasa.

--page

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyampaikan fenomena banjir rob mendapatkan atensi nasional. Di wilayah selatan Kotim, banjir rob diperkirakan berlangsung pada 6–13 Desember 2025, dipicu oleh posisi bulan yang berada paling dekat dengan bumi (perigee).

Ia khawatir tingginya pasang air laut bisa bersamaan dengan hujan lebat di wilayah hulu.

“Beberapa anak sungai di hulu sudah naik. Jika terjadi hujan dengan durasi panjang, aliran sungai akan terhambat dan dapat memperburuk banjir di wilayah utara,” jelasnya.

Terdapat tiga kecamatan rawan banjir rob di Kotim, yakni Teluk Sampit terutama Desa Ujung Pandaran, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, bahkan berpotensi meluas hingga Mentawa Baru Ketapang, seperti kejadian sebelumnya pada November lalu di Desa Pelangsian.

Multazam mengingatkan, meski banjir rob biasanya berlangsung hanya 4–5 jam, masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan terutama pada malam hari.

--page

Ia juga mengimbau warga yang tinggal di bantaran sungai untuk berhati-hati terhadap potensi ancaman hewan liar, terutama buaya.

“Ketika banjir, buaya bisa mendekat ke permukiman. Apalagi saat malam minim penerangan masyarakat harus waspada,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)