BORNEONEWS, Palangka Raya - Setelah laporan mengenai penyebaran malware Albiriox mencuat, pakar keamanan siber maupun teknisi programmer mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aplikasi palsu dan tautan yang berpotensi menjadi media penyebaran.
"Modus infeksi malware ini paling sering memanfaatkan izin install unknown apps dan rekayasa sosial melalui pesan atau iklan yang mengarahkan pengguna untuk memasang aplikasi di luar toko resmi," ungkap Agung, teknisi IT Galery Service di Palangka Raya kepada Borneonews, Minggu, 7 Desember 2025.
Menurutnya sebagian besar infeksi Albiriox tercatat terjadi karena pengguna mengizinkan pemasangan aplikasi dari luar Play Store tanpa verifikasi yang memadai. Pemeriksaan detail seperti nama pengembang, ulasan, dan jumlah unduhan juga penting sebelum memasang aplikasi, terutama yang berkaitan dengan keuangan.
Selain itu, pakar menyarankan masyarakat untuk tetap menjaga pengaturan keamanan perangkat, termasuk menonaktifkan izin pemasangan dari sumber tidak dikenal serta membatasi izin aksesibilitas aplikasi. Aplikasi yang tiba-tiba meminta akses ke fitur screen overlay, aksesibilitas, atau permintaan kontrol perangkat harus langsung dianggap mencurigakan.
Pencegahan juga dapat dilakukan melalui penggunaan aplikasi keamanan yang menyediakan pemindaian real time. Meski tidak menjamin 100 persen perlindungan, solusi keamanan dapat memberikan peringatan dini bila terdapat aktivitas mencurigakan yang mirip perilaku Albiriox, seperti pengambilalihan layar atau instalasi otomatis aplikasi kedua.
--page
"Sebagai langkah tambahan, pembaruan rutin biasanya membawa peningkatan lapisan keamanan. Masyarakat juga diminta berhati-hati terhadap SMS, email, atau tautan promosi yang menawarkan aplikasi instan atau hadiah," pesan Agung. (SABRIANOOR/j)









