BORNEONEWS, Banjarmasin - Abuya KH Muhammad Syukri Unus lahir pada Senin, 5 Oktober 1948 atau bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 1367 Hijriah di Desa Harus, Sungai Malang, Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara. Ia merupakan putra dari pasangan Unus bin Ali bin Abd Rasyid dan Hj. Mascinta binti Sa’ad bin Abd Rasyid. Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan yang religius dan penuh nilai-nilai keislaman.
Sebagai anak muda, Abuya KH Muhammad Syukri Unus dikenal cerdas dan disiplin. Selama bersekolah di tingkat SD (1954–1960) hingga SMP (1960–1963), beliau selalu menempati peringkat pertama.
"Ketika sang ayah wafat, peristiwa itu menjadi momentum spiritual yang mendorong beliau untuk memperdalam ilmu agama lebih serius," tutur Ahmad, jemaah Majelis Darussyakirin, Senin, 8 Desember 2025.
Pada tahun 1963, ia memutuskan merantau ke Martapura untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam. Kecerdasannya membuat beliau cepat dikenal di kalangan para guru dan santri. Meski menetap dan mengajar di Martapura, Abuya KH. Syukri Unus tidak pernah melupakan kampung halamannya di Amuntai. Banyak santri dan alumni dari Amuntai yang terus berguru kepada beliau.
Dalam perjalanan hidupnya, Abuya dikenal sebagai ulama yang istiqamah berdakwah, lembut tutur kata, dan tegas dalam membimbing umat menuju akhlak yang lebih baik. Ceramah-ceramahnya yang menyejukkan banyak dijadikan pegangan oleh jamaah, terutama dalam bidang tasawuf, fiqih, dan pembinaan akhlak.
Sosok beliau juga dikenal rendah hati dan mudah ditemui oleh jamaah. Beliau tidak pernah berhenti menyampaikan ilmu, baik di majelis rutin, acara keagamaan, maupun kegiatan sosial.
"Sikapnya yang ramah dan lembut menjadikan beliau dicintai oleh berbagai kalangan, tanpa memandang usia maupun latar belakang," tambah Ahmad.
Sejak kabar wafatnya tersebar, ucapan belasungkawa datang dari berbagai tokoh ulama, habaib, serta masyarakat umum. Banyak jamaah merasa kehilangan seorang guru yang telah membimbing mereka selama puluhan tahun. Warisan keilmuan Abuya KH. Syukri Unus diharapkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan menerangi generasi berikutnya. (SABRIANOOR/y)









