BORNEONEWS, Banjarmasin - Laporan palsu kebakaran yang sempat membuat geram para relawan di Kalimantan Selatan akhirnya menemukan titik terang.
Foto hoaks yang menampilkan seolah-olah terjadi kebakaran di MTsN 2 Pelaihari kini terbukti merupakan hasil rekayasa. Akibatnya, sejumlah unit BPK dan Damkar terpaksa dikerahkan ke lokasi, sebelum akhirnya memastikan bahwa situasi aman dan tidak terjadi insiden apa pun.
Setelah dilakukan penelusuran oleh Polres Tanah Laut, tiga orang pelaku penyebaran foto hoaks tersebut berhasil diamankan. Mereka adalah Jali, Alfi, dan Rizki, seluruhnya warga Pelaihari. Temuan ini sekaligus mengakhiri teka-teki mengenai sumber beredarnya gambar kebakaran palsu yang sempat membuat masyarakat heboh.
Proses klarifikasi berlangsung di Polsek Pelaihari pada Minggu malam, 7 Desember 2025 sekitar pukul 22.00 WITA. Ketiganya hadir dan memberikan pengakuan secara terbuka di hadapan petugas Damkar serta para relawan kebakaran Tanah Laut. Mereka terlihat menyesali perbuatannya yang menimbulkan kegaduhan luas.
Dalam pengakuannya, Jali menyebut bahwa dirinyalah yang membuat rekayasa foto tersebut. Ia mengaku melakukan hal itu setelah diminta oleh teman-temannya untuk membuat gambar “iseng” yang seolah-olah terjadi kebakaran di lingkungan sekolah. Aksi iseng itu kemudian menyebar cepat dan menimbulkan dampak serius.
“Kami memohon maaf atas kegaduhan dan keresahan masyarakat Pelaihari, terutama bagi Damkar dan relawan, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ujar ketiga pelaku dalam momen klarifikasi tersebut. Mereka berharap permintaan maaf ini dapat meredakan kekecewaan dan kemarahan para relawan.
Menanggapi kejadian itu, Sani, salah satu relawan BPK Banjarmasin, mengingatkan masyarakat agar tidak mempermainkan informasi terkait insiden kebakaran. Menurutnya, setiap laporan kebakaran adalah situasi darurat yang membutuhkan respons cepat, dan memiliki risiko tinggi bagi petugas dan relawan yang bergerak ke lokasi.
“Kebakaran adalah hal yang darurat, dan risiko bergegas menuju ke lokasi itu cukup besar. Jangan mempermainkan profesi damkar maupun relawan,” tegas Sani, berharap kejadian serupa tidak lagi terulang di masa mendatang. (SABRIANOOR/H)









