SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pastor Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit RP Yohanes Kopong Tuan mendapat ancaman gara-gara menolak road race yang akan digelar di Taman Kota Sampit.

"Perbedaan pendapat itu bagian demokrasi dan perbedaan itu sah legal. Tetapi saya mendapat ancaman karena penolakan ini," kata Pastor Yohanes, Selasa, 9 Desember 2025.

Hal itu ia sampaikan saat audiensi yang digelar Pemkab Kotawaringin Timur antara pihak Gereja Katolik Don Bosco dan panitia penyelenggara road race Gubernur Motorprix 2025.

Turut hadir dalam audiensi tersebut Pengcab IMI Kotim, Dishub Kotim, Dispora Kotim, KONI Kotim, Dinas SDABMBKPRKP, dan Polres Kotim.

Pastor Yohanes mengatakan, ancaman tersebut mengatakan bahwa jika road race tidak terlaksana maka akan rusuh.

Sebetulnya dirinya tidak menolak road race, namun yang ia tolak ialah lokasi di Taman Kota Sampit. Sebab di lokasi tersebut terdapat rumah pastori, klinik terapung, sekolah, dan di dekatnya terdapat rumah ibadah Gereja Katolik Don Bosco.

Di sisi lain, telah terbit surat edaran Bupati Kotim Nomor 500/304/SETDA.EK/V/2024, tentang larangan penyelenggaraan event berskala besar di Jalan Yos Sudarso karena menganggu layanan kesehatan di klinik terapung.

"Ini juga bentuk menghargai bupati yang telah mengeluarkan surat edaran," imbuhnya. Ia menjelaskan, event seperti ini telah dilakukan sejak lama di Taman Kota Sampit. Meski panitia menjanjikan keamanan agar tidak terganggu, 

Bahwa kemudian ada janji dari panitia, tapi faktanya dampaknya pihaknya rasakan. Umat yang hendak ibadah ke Gereja Don Bosco yang berada di Jalan S Parman sulit masuk karena akses tertutup karena banyaknya penonton. Bahkan rumah pastori yang berada di Jalan Yos Sudarso dimasuki penonton yang memanjat pagar.

Sementara itu, Ketua Dewan Paroki Salampak mengatakan, atas pengalaman pada event-event road race sebelumnya itulah pihaknya mengirim surat kepad Bupati, lalu keluar surat edaran pada tahun 2024 tersebut. 

"Tetapi sudah ada surat bupati apakah kita akan menabrak aturan itu. Juga sebenarnya hari Minggu kita ada event Posyandu lansia dan lain-lain. Pada dasarnya pengalaman yang lalu panitia bilang ada akses jalan kenyataannya tetap saja jalan tertutup," katanya.

Dia menyoroti event road race dilakukan di jalan umum, seolah melegalkan aksi balapan di jalan raya.

"Mungkin karena sejak 1997 dipakai di situ jadi terlena tanpa ada arena yang khusus untuk road race. Karena ini audiensi dari pemkab kami meminta solusi, Sebenarnya kami ingin kegiatan ini dilaksanakan di alternatif tempat lain," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)