PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Upaya pengendalian Tuberkulosis atau TBC di Kalimantan Tengah kembali menjadi sorotan setelah data penemuan kasus hingga 9 Desember 2025 menunjukkan disparitas yang cukup lebar antardaerah. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Suyuti Syamsul, melalui Wasor TB, Soni Purwanto, menyampaikan bahwa Kabupaten Kotawaringin Barat mencatat kasus tertinggi dengan 1.037 temuan. Disusul Kota Palangka Raya dengan 1.001 kasus, Kotawaringin Timur 805 kasus, dan Kapuas 517 kasuTB

“Sementara itu, Sukamara menjadi daerah dengan temuan terendah, yakni 91 kasus,” kata Soni pada Kamis, 11 Desember 2025.

Menurut Soni, capaian penemuan kasus sangat dipengaruhi karakteristik wilayah dan kesiapan layanan kesehatan. Kalteng yang luas dengan banyak desa jauh dari fasilitas kesehatan menjadi tantangan utama. Selain itu, cakupan skrining aktif di kelompok berisiko, kapasitas tenaga kesehatan dalam tatalaksana kasus, serta akses terhadap alat diagnostik seperti TCM dan rontgen turut menentukan.

“Perilaku masyarakat, jejaring layanan kesehatan, pendampingan kader, serta optimalisasi pencatatan melalui SITB juga memainkan peran penting,” jelasnya.

Dukungan pemerintah di semua tingkatan disebutnya memberi dampak signifikan terhadap peningkatan cakupan layanan. Komitmen anggaran, pelaksanaan monitoring, dan evaluasi rutin memperkuat fondasi program TBC di daerah.

“Tanpa dukungan lintas sektor, capaian ini tidak akan berjalan optimal,” tambah Soni.

Sejumlah langkah strategis terus diterapkan untuk mempercepat eliminasi TBC di Kalimantan Tengah. Di antaranya penguatan deteksi melalui skrining aktif dan investigasi kontak, pemanfaatan jejaring laboratorium untuk mempercepat diagnosis, serta perluasan layanan di daerah terpencil melalui puskesmas, klinik, dan praktik dokter mandiri.

“Supervisi rutin dari provinsi dan kabupaten memastikan standar layanan tetap terjaga,” tuturnya.

Soni menambahkan, pengelolaan data melalui SITB, manajemen logistik obat dan alat diagnostik, serta pelibatan masyarakat dan penyintas memperkuat efektivitas penanganan. Koordinasi lintas sektor juga terus ditingkatkan untuk mendukung upaya pencegahan dan pengendalian di lapangan.

Meski begitu, sejumlah tantangan masih menghambat penanganan pasien. Banyak warga baru mencari pertolongan saat gejala memburuk akibat stigma dan kurangnya pemahaman. Kondisi geografis yang sulit dijangkau menyulitkan pemantauan dan meningkatkan risiko putus obat.

“Durasi pengobatan yang panjang, efek samping obat, ketiadaan pendamping, hingga tekanan ekonomi kerap membuat pasien tidak menyelesaikan terapi,” ujar Soni.

Ia menilai komorbiditas seperti diabetes, HIV, malnutrisi, serta gangguan alat diagnostik turut memperumit perawatan. Kendala pencatatan, koordinasi antarfasilitas, dan mobilitas pasien yang tinggi juga menyebabkan kasus hilang tindak lanjut.

“Kami terus menguatkan sistem agar seluruh pasien dapat terpantau dengan baik dan pengobatan tuntas,” tegasnya.

Soni memastikan pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota berkomitmen memperkuat jejaring layanan, meningkatkan edukasi, dan memperluas jangkauan deteksi dini. Langkah ini diharapkan dapat menekan penularan dan mempercepat upaya eliminasi TBC di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/y)