JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Tahun 2025 menjadi tonggak penting untuk memperkuat investasi dan hilirisasi di Indonesia.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, realisasi investasi nasional tetap menunjukkan kinerja solid, dengan kontribusi signifikan dari sektor hilirisasi yang semakin menjadi motor penggerak pertumbuhan.

Masuknya investasi ke proyek-proyek pengolahan sumber daya alam dan mineral di dalam negeri tak hanya memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga mendorong penciptaan nilai tambah, perluasan lapangan kerja, serta penguatan daya saing produk domestik.

Presiden Prabowo Subianto secara konsisten menekankan bahwa investasi dan hilirisasi merupakan pilar utama dalam strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut, setidaknya membutuhkan total investasi Rp13.000 triliun hingga 2029 untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

Tahun ini, pemerintah menargetkan untuk bisa menggaet investasi Rp1.905,06 triliun, meningkat 15,49 persen dari tahun 2024 yang sebesar Rp1.650 triliun.

Data terbaru hingga tiga bulan terakhir 2025 menunjukkan, periode Juli–September investasi yang berhasil dikantongi negara mencapai Rp491,4 triliun, tumbuh 13,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ini mencerminkan kuatnya kepercayaan pelaku usaha domestik, sekaligus tetap tingginya minat investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Dengan capaian tersebut, total realisasi investasi sepanjang Januari–September 2025 telah mencapai Rp1.434,3 triliun atau 75,3 persen dari target investasi nasional tahun 2025, dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,96 juta orang.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyatakan optimistismenya bahwa target investasi yang diberikan di tahun ini maupun Rp13.000 triliun hingga 2029 merupakan suatu hal bisa diwujudkan.

“Kalau saya melihatnya, kita optimis, ya, itu bisa kita capai. Karena tadi kalau kita lihat memang salah satu kontributor yang bisa mendorong ke atas itu adalah investasi,” kata dia.

Fokus hilirisasi

Dari arus modal yang masuk, pemerintah terus mengarahkan investasi pada program hilirisasi karena diyakini memberikan manfaat luas, terutama dalam mendorong penciptaan lapangan kerja.

Sektor hilirisasi tercatat menjadi pendorong utama pertumbuhan investasi dengan realisasi mencapai Rp431,4 triliun atau setara 30,1 persen dari total investasi kumulatif hingga triwulan III.

Kontribusi terbesar berasal dari hilirisasi sektor mineral dan pertambangan senilai Rp291,6 triliun, diikuti hilirisasi perkebunan dan kehutanan Rp103,3 triliun, minyak dan gas bumi Rp32,6 triliun, serta kelautan dan perikanan Rp3,9 triliun.

Ini menjadi bukti kuat tumbuhnya transformasi dari ekspor bahan mentah menuju industri berbasis nilai tambah.

Struktur investasi ini juga sejalan dengan kebijakan pemberlakuan larangan ekspor bahan mentah dan insentif hilirisasi yang membuat banyak proyek smelter, fasilitas mixed hydroxide precipitate (MHP) untuk baterai kendaraan listrik (EV), serta pabrik rotary kiln electric furnace (RKEF) masuk ke fase konstruksi atau operasi.

Beberapa contoh proyek besar yang tercatat di tahun ini antara lain pengembangan high pressure acid leach (HPAL) oleh perusahaan negara, PT Vale Indonesia yang membidik investasi asing hingga 1,2 miliar dolar AS.

Peresmian proyek ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai Rp96,04 triliun di Karawang, Jawa Barat itu dilakukan oleh Presiden Prabowo pada pertengahan tahun. Proyek itu merupakan hasil kerja sama antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL).

Ekosistem industri ini terbesar di Asia dan dibangun secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pertambangan nikel, pengolahan dan pemurnian, produksi bahan baku baterai, hingga pabrik sel baterai kendaraan listrik.

Proyek ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam mempercepat hilirisasi sumber daya alam sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik.

Selain itu, pada November, Presiden Prabowo juga telah meresmikan pabrik petrokimia milik Lotte Chemical Indonesia (LCI), sebagai bagian dari proyek New Ethylene Project (LINE Project) di Cilegon, Banten.

Proyek ini berhasil menggaet investasi 3,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp62,4 triliun, menjadikannya sebagai salah satu investasi asing terbesar di sektor petrokimia, sekaligus menjadi fasilitas pengolahan terbesar di Asia Tenggara.

Pabrik LCI mampu menghasilkan 1 juta ton ethylene per tahun, serta produk petrokimia lainnya seperti propylene, polypropylene, dan BTX.

Kehadiran LCI tidak hanya mendorong hilirisasi di sektor petrokimia, tetapi juga memperkuat kepercayaan investor global terhadap komitmen Indonesia dalam memajukan hilirisasi.

Selain itu, dengan masuknya Lotte Chemical sebagai pabrik petrokimia besar, kerangka hilirisasi Indonesia kian meluas, tak hanya berhenti pada mineral dan logam seperti nikel saja, tetapi melebar ke sektor petrokimia dan industri kimia dasar.

Pemerintah berharap keberadaan LCI akan membantu mengurangi kebergantungan pada impor bahan kimia dasar seperti nafta, memenuhi kebutuhan domestik mengingat petrokimia merupakan mother of industry, serta membuka peluang ekspor produk petrokimia dari Indonesia ke pasar regional maupun global.

Dengan tren ini, hilirisasi yang dijalankan tidak hanya menjadi katalis investasi besar, tetapi juga bagian kunci dari strategi nasional untuk memperkuat nilai tambah industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah dari dalam negeri, serta mendukung transformasi ekonomi menuju industri bernilai tambah tinggi.

Keberhasilan menjaga momentum investasi dan hilirisasi menentukan arah ekonomi Indonesia menuju struktur ekonomi yang lebih kuat, solid, berdaya saing, dan berkelanjutan yang pada akhirnya menjadikan Ibu Pertiwi sebagai raksasa ekonomi dunia.

ANTARA